Tragedi Minamata Jadi Pembelajaran, BRIN Gandeng PUK Bahas Polusi Merkuri

1772169110 99327167

BicaraPlus – Tragedi pencemaran merkuri di Teluk Minamata, Prefektur Kumamoto, Jepang, menjadi pelajaran penting tentang dampak serius polusi terhadap kesehatan manusia dan lingkungan

Pengalaman itu kembali diangkat dalam diseminasi bertajuk “Melindungi Masa Depan Kita untuk Generasi Selanjutnya – Polusi Merkuri dan Inisiatif Prefektur Kumamoto” yang digelar di Gedung 720 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie Serpong, Senin (23/2).

Pelaksana Harian Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hens Saputra mengatakan, kolaborasi ini penting karena merkuri bukan lagi isu lokal, melainkan persoalan global.

“Merkuri bukan hanya isu lokal, tapi sudah menjadi isu global dan sangat berdampak terhadap kesehatan manusia maupun kualitas lingkungan,” ujar Hens.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRTLTB) BRIN dan Prefectural University of Kumamoto (PUK), Jepang.

Menurut Hens, penggunaan merkuri hingga kini masih cukup luas, terutama di sektor pertambangan emas skala kecil (PESK) dan industri kimia. Karena itu, ia berharap forum ini dapat memperdalam pemahaman peserta mengenai ancaman merkuri serta upaya pengendaliannya.

Ia menekankan, Prefektur Kumamoto memiliki pengalaman langsung menghadapi tragedi pencemaran merkuri yang memicu penyakit Minamata. Pengalaman tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Dari pengalaman itu kita bisa belajar agar kejadian serupa tidak terulang dan riset kita ke depan bisa lebih maju,” katanya.

Profesor Prefectural University of Kumamoto Tetsuro Agusa menyebut forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai penanganan dan pencegahan dampak penyakit Minamata di Jepang.

Ia menjelaskan, materi disampaikan oleh mahasiswa doktoral asal Indonesia yang menerima beasiswa dari Prefektur Kumamoto untuk mendalami studi merkuri.

“Mereka akan membahas dukungan terhadap pasien penyakit Minamata, upaya membangun masyarakat bebas merkuri, hingga dukungan beasiswa untuk penelitian merkuri,” ujar Agusa.

Ia berharap kolaborasi antara PUK dan BRIN semakin kuat serta mendorong lebih banyak peneliti Indonesia mendalami isu merkuri.

Sementara itu, Kepala PRTLTB BRIN, Ario Betha Juanssilfero, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan koordinasi riset antara BRIN dan PUK sekaligus meningkatkan kesadaran publik.

Peserta kegiatan berasal dari pelajar SMA, mahasiswa, sivitas BRIN, hingga pemangku kepentingan lainnya.

“Melalui kerja sama ini kita bisa melihat perspektif global, belajar dari Jepang, dan memahami strategi penanganan pencemaran merkuri di Indonesia,” pungkasnya.

Bagikan