
BicaraPlus – Sistem pertahanan udara Israel mulai menunjukkan tekanan setelah menghadapi serangan skala besar dari Iran.
Sistem pertahanan udara Israel mulai menunjukkan tekanan setelah menghadapi serangan skala besar dari Iran.
Pengamat militer Gianluca Di Feo dari La Repubblica menyebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran kini menggunakan senjata yang lebih canggih, termasuk bom tandan. Senjata ini dinilai menyulitkan sistem pertahanan Israel untuk melakukan pencegatan secara efektif.
Salah satu sistem utama Israel, Arrow 3, kini digunakan lebih terbatas. Sistem ini merupakan garis pertahanan penting untuk menghadapi serangan jarak jauh.
Dalam konflik pada Juni lalu, sekitar 50 rudal Arrow 3 telah digunakan. Setelah serangan balasan Iran terbaru, Israel kembali menembakkan sekitar 80 rudal untuk mencegat ancaman yang masuk.
Masalahnya, laju produksi rudal tersebut tergolong lambat. Penambahan stok baru diperkirakan bisa memakan waktu hingga tiga tahun.
Akibat keterbatasan itu, Israel kini lebih sering mengandalkan sistem David’s Sling. Namun, sistem ini hanya efektif pada tahap akhir pencegatan dan kerap kesulitan menghentikan bom tandan sebelum menyebar.
Kekhawatiran soal menipisnya kemampuan pertahanan ini juga dirasakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Pentagon telah mengerahkan sistem tambahan, seperti THAAD, rudal SM-3 di kapal perang, serta Patriot PAC-3 untuk memperkuat pertahanan.
Tercatat, sekitar 150 rudal THAAD digunakan pada Juni lalu, atau setara dengan sepertiga dari total persediaan. Dalam 36 jam pertama konflik terbaru, sebanyak 80 rudal tambahan kembali ditembakkan.
Sementara itu, produksi tahunan THAAD masih terbatas, yakni kurang dari 40 rudal per tahun. Artinya, pengisian ulang dalam jumlah besar diperkirakan baru bisa terjadi beberapa tahun ke depan.
Konflik ini sendiri bermula pada 28 Februari, saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Iran kemudian membalas dengan menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, seperti di Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.





