
BicaraPlus – Sabtu sore di Pacitan, udara terasa lembut, langit berwarna keemasan, dan awan tipis berarak seolah sedang menutup hari dengan tenang. Di hadapan hamparan air Bendungan Tukul yang luas, cahaya senja jatuh berlapis-lapis, memantul ke permukaan waduk. Bukit-bukit hijau di sekelilingnya berdiri gagah, menjadi bingkai alami bagi pemandangan yang memikat.

Seorang lelaki berusia 75 tahun berdiri di tepi bendungan itu. Tangannya menggenggam ponsel pintar, menatap layar sebentar, lalu mengangkatnya tinggi ke arah bukit. Klik. Klik. Klik. Beberapa kali ia menekan tombol kamera, membekukan cahaya sore yang jatuh di permukaan air.
Dialah Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Republik Indonesia. Seorang putra daerah yang kembali ke tanah kelahirannya, menemukan sumber inspirasi baru dalam senja Tukul. Potret di layar ponselnya hanyalah catatan kecil, sebab ia tahu, keindahan yang sesungguhnya akan lebih abadi bila dituangkan ke dalam kanvas.
“Pemandangan ini luar biasa indah,” ujarnya pelan, sambil menurunkan ponselnya. “Air yang tenang, bukit yang menghijau, dan langit senja seperti melukis dirinya sendiri. Kalau tak segera saya abadikan, rasanya sayang sekali.”

Bendungan, Air, dan Harapan
Bendungan Tukul bukanlah tempat biasa. Ia adalah hasil kerja panjang sejak 2015 hingga 2020, bagian dari Proyek Strategis Nasional dengan biaya miliaran rupiah dari APBN. Bendungan bertipe Urugan Zonal dengan Inti Tegak ini sanggup menampung 8,68 juta meter kubik air.
Manfaatnya besar: mengairi 600 hektare sawah, menyuplai air baku 300 liter per detik, bahkan membangkitkan listrik tenaga mikrohidro. Lebih dari itu, Tukul kini menjelma destinasi wisata. Kawula muda berduyun-duyun datang untuk menikmati sore, singgah di mushola, membeli jajanan UMKM, atau sekadar berswafoto di rest area dengan pemandangan perbukitan.
Nama Tukul sendiri diambil dari dusun tempat waduk itu berada, diapit oleh Krajan dan Mendang. Kini, luasnya mencapai 44,81 hektare dengan fasilitas publik yang lengkap. Namun, yang membuatnya benar-benar berharga bukan hanya fungsi teknis, melainkan suasana: perpaduan air yang luas, bukit hijau, dan cahaya senja yang memanjakan mata.

Dari Kamera ke Kuas
Dalam kunjungannya, SBY meminta rombongan berhenti sejenak. Pandangannya menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan. Ia menunjuk jalan yang retak dan berlubang. “Jalan ini tolong segera diperbaiki,” pesannya kepada Bupati Pacitan yang mendampinginya. Refleks seorang pemimpin, bahkan ketika sudah tak lagi duduk di tampuk kekuasaan.
Setelah itu, ia kembali ke dunia yang lebih personal. SBY duduk, mengeluarkan kuas, dan menyiapkan kanvas putih di hadapannya. Bidikan kamera tadi menjadi catatan awal. Namun, tangan dan hatinya bekerja lebih dalam. Kuas bergerak perlahan, membentuk siluet bukit, menyapu warna lembayung, lalu memecah cahaya sore di atas permukaan waduk.
“Setiap kali saya melukis alam, rasanya seperti kembali ke masa kecil di Pacitan,” katanya sambil menatap kanvas. “Saya ingin merekam bukan hanya bentuknya, tapi juga suasananya, keteduhan, kedamaian, sekaligus harapan.”

Pacitan, Rumah dan Inspirasi
Sejak menanggalkan jabatan presiden, SBY kerap menyalurkan perasaan melalui musik dan lukisan. Tetapi Pacitan, kampung halamannya, selalu menghadirkan inspirasi yang berbeda. Di tanah inilah ia dibesarkan, di sungai-sungai kecil dan bukit yang tenang.
Kini, dengan Bendungan Tukul yang menjelma destinasi baru, Pacitan memiliki wajah lain: modern, sekaligus tetap alami. Bagi SBY, melukis Tukul mungkin adalah cara merayakan itu semua, kemajuan, keindahan, dan kenangan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.
Di hadapan bendungan yang airnya berkilau diterpa matahari sore, SBY tak lagi tampil sebagai mantan presiden. Ia hadir sebagai seorang lelaki yang pulang ke tanah kelahirannya, menangkap pemandangan senja, dan memindahkannya ke dalam lukisan. Dengan kuas dan cat, ia kembali menyatu dengan Pacitan, membiarkan dirinya larut dalam lembayung Tukul yang abadi.
Foto: Instagram SBY Art Community