Selat Hormuz Belum Sepenuhnya Dibuka, Bos ADNOC Peringatkan Ancaman Guncangan Ekonomi Global

1000034389

BicaraPlus – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. CEO ADNOC sekaligus Menteri Industri dan Teknologi Maju UEA, Sultan Al Jaber, menegaskan bahwa Selat Hormuz hingga kini belum benar-benar terbuka, meski narasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat mulai mengemuka.

Dalam pernyataan terbarunya, Al Jaber menyebut akses jalur laut strategis tersebut masih “dibatasi, dikondisikan, dan dikontrol”, sehingga belum mencerminkan kebebasan navigasi yang dijamin hukum internasional. Ia menilai kondisi ini berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi perdagangan global dan stabilitas ekonomi dunia.

Menurut Al Jaber, sekitar 230 kapal tanker bermuatan minyak saat ini masih tertahan dan siap berlayar, namun belum dapat melintas secara bebas. Padahal, lebih dari 20% perdagangan energi global melewati koridor Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Ancaman Nyata bagi Harga Minyak dan Inflasi Dunia

Pembatasan di Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan fisik minyak mentah. Al Jaber menilai saat ini pasar sedang menghadapi fase ketika perdagangan kontrak kertas mulai bertemu realitas pasokan fisik, terutama setelah jeda distribusi energi global selama sekitar 40 hari.“Setiap hari Selat Hormuz tetap dibatasi, dampaknya akan terus berlipat. Pasokan tertunda, pasar mengetat, harga naik,” tegasnya.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi global, terutama pada sektor transportasi, manufaktur, logistik, hingga harga pangan. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong cost of living crisis baru di berbagai negara, termasuk Asia yang menjadi tujuan utama ekspor minyak Teluk.


Asia Jadi Kawasan Paling Rentan

Al Jaber menyoroti bahwa sekitar 80% kargo energi yang tertahan di Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia, kawasan yang menjadi pusat manufaktur dunia dan rumah bagi hampir separuh populasi global.

Bagi negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan ASEAN, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan biaya impor energi, pelemahan sektor industri, dan tekanan pada nilai tukar.

Dampaknya juga sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga crude global berpotensi menekan subsidi energi, biaya logistik nasional, dan harga kebutuhan pokok.

UEA Desak Pembukaan Jalur Tanpa Syarat

Pemerintah UEA melalui ADNOC mendesak agar Selat Hormuz dibuka kembali secara penuh, tanpa syarat, dan tanpa kontrol politik pihak mana pun.Menurut Al Jaber, kebebasan navigasi di jalur laut internasional merupakan hak yang dijamin konvensi hukum laut PBB (UNCLOS), bukan alat tekanan geopolitik.Ia juga menegaskan ADNOC telah menyiapkan muatan ekspor dan akan memperluas produksi sejauh kondisi keamanan infrastruktur memungkinkan, menyusul serangan yang sempat merusak fasilitas energi di kawasan Teluk.

Pelaku pasar kini memantau ketat perkembangan di Timur Tengah karena gangguan pasokan dari Selat Hormuz dapat memicu shockwave ekonomi global, mulai dari lonjakan harga minyak, tekanan pasar saham, volatilitas mata uang, hingga gangguan rantai pasok industri dunia.

Jika pembukaan penuh tidak segera terealisasi, analis memperkirakan harga minyak dunia dapat kembali mendekati level psikologis US$100 per barel, yang akan memperbesar tekanan bagi negara-negara importir energi.

Bagikan