Transplantasi Sel Punca untuk Mieloma Multipel: Terapi yang Bisa Perpanjang Harapan Hidup Pasien Kanker Darah

IL by CNN Indonesia

Bicaraplus – Mieloma multipel merupakan salah satu kanker darah kompleks yang menyerang sel plasma di sumsum tulang. Di tengah perkembangan terapi kanker modern, transplantasi sel punca menjadi salah satu opsi pengobatan yang terbukti mampu meningkatkan angka harapan hidup sekaligus kualitas hidup pasien. Terapi ini tidak selalu menyembuhkan, namun mampu menekan perkembangan penyakit dan memperpanjang masa remisi secara signifikan.

Pada tahap awal pengobatan, pasien mieloma multipel biasanya menjalani terapi induksi yang menggabungkan kemoterapi, terapi target, serta imunoterapi. Obat seperti daratumumab, bortezomib, lenalidomide, thalidomide, dan deksametason sering digunakan untuk menekan jumlah sel kanker sebelum pasien dipersiapkan menjalani transplantasi sel punca.

Tidak semua pasien menjadi kandidat transplantasi. Secara umum, prosedur ini direkomendasikan pada pasien dengan kondisi fisik cukup baik, fungsi organ stabil, serta merespons terapi awal dengan baik. Usia sering menjadi pertimbangan, namun bukan satu-satunya faktor penentu. Kondisi jantung, ginjal, dan penyakit penyerta juga sangat memengaruhi keputusan medis.

Dalam praktik klinis, transplantasi sel punca autologus menjadi metode yang paling sering digunakan pada mieloma multipel. Pada prosedur ini, sel punca pasien sendiri diambil, kemudian dikembalikan setelah pasien menjalani kemoterapi dosis tinggi. Metode ini memiliki risiko komplikasi imun lebih rendah dibanding transplantasi alogenik yang menggunakan donor, meskipun transplantasi donor tetap dipertimbangkan pada kondisi tertentu seperti kekambuhan penyakit.

Proses pemulihan pasca transplantasi membutuhkan waktu panjang. Masa rawat inap awal biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu hingga kondisi darah dan sistem imun mulai pulih. Namun pemulihan kekebalan tubuh secara penuh bisa memakan waktu beberapa bulan hingga satu tahun. Selama masa ini, pasien membutuhkan pemantauan ketat terhadap risiko infeksi, serta dukungan rehabilitasi fisik dan nutrisi.

Dari sisi efektivitas, transplantasi sel punca autologus mampu menghasilkan remisi pada sekitar 50–60% pasien. Banyak pasien dapat hidup beberapa tahun setelah prosedur, bahkan sebagian mencapai remisi jangka panjang. Studi medis menunjukkan rata-rata angka kelangsungan hidup pasien pasca transplantasi berada di kisaran 5–10 tahun, dengan beberapa pasien bertahan lebih lama berkat perkembangan terapi lanjutan.

Meski memiliki manfaat besar, transplantasi sel punca tetap memiliki risiko. Efek samping kemoterapi dosis tinggi seperti mual, kelelahan ekstrem, hingga penurunan sistem imun menjadi tantangan utama. Selain itu, proses pemulihan yang panjang menuntut komitmen pasien dalam menjalani perawatan lanjutan.

Secara keseluruhan, transplantasi sel punca menjadi salah satu terobosan penting dalam pengobatan mieloma multipel. Terapi ini memberikan peluang hidup lebih panjang dan kualitas hidup lebih baik bagi pasien kanker darah, terutama bila dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan pemantauan medis optimal.

Bagikan