Sekutu Tolak Lindungi Selat Hormuz, Trump: Tak Tahu Berterima Kasih

1772275458051 screenshot 2026 02 28 at 16 17 51 1 1

BicaraPlus – Smelawan Iran yang kini memasuki minggu ketiga. Jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu masih terganggu, memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi global.

Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada 15 Maret menyerukan negara-negara sekutu untuk ikut “berbagi beban” dengan mengirim kapal perang guna mengawal tanker minyak.

Namun respons yang datang justru di luar harapan Washington.

Sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Spanyol, dan Italia menegaskan tidak memiliki rencana untuk mengirim armada militer ke kawasan tersebut. Mereka beralasan tidak ada mandat resmi dari lembaga internasional seperti PBB, Uni Eropa, maupun NATO.

Kanselir Jerman Friedrich Merz secara terbuka menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki otorisasi untuk terlibat dalam operasi tersebut. Ia juga menyinggung bahwa Berlin tidak diajak berkonsultasi sebelum konflik dimulai.

Pernyataan itu memperlihatkan retaknya koordinasi di antara sekutu Barat di tengah krisis yang semakin meluas.

Menanggapi hal ini, Donald Trump mengaku kecewa. Dalam pernyataannya di Gedung Putih, ia menyebut ada negara yang antusias membantu, tetapi ada juga yang tidak menunjukkan dukungan.

Ia menegaskan bahwa tingkat dukungan sekutu menjadi hal penting, terutama mengingat peran Amerika selama ini dalam melindungi mereka dari berbagai ancaman eksternal.

Di saat yang sama, konflik di lapangan terus berkembang.

Israel menyatakan siap melanjutkan operasi militernya setidaknya selama tiga minggu ke depan. Serangan udara dilaporkan terus menyasar berbagai target di Iran, sementara operasi darat juga meluas hingga ke wilayah Lebanon selatan.

Langkah ini memicu kekhawatiran internasional. Sejumlah negara Barat memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut, terutama serangan darat skala besar, berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius dan memperpanjang konflik.

Meski demikian, Israel menegaskan akan terus menargetkan infrastruktur militer Iran, termasuk fasilitas rudal balistik dan instalasi nuklir.

Dari pihak Iran, respons keras terus dilancarkan.

Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan akan menargetkan fasilitas industri milik AS di kawasan Timur Tengah. Warga sipil yang berada di sekitar lokasi tersebut bahkan diminta untuk segera menjauh.

Di Irak, ledakan dilaporkan terjadi di dekat Kedutaan Besar AS di Baghdad, menambah ketegangan di kawasan.

Serangan Iran juga terus berlanjut ke Israel dan negara-negara Teluk. Pada 16 Maret, serangan drone dilaporkan sempat menutup operasional Bandara Dubai dan menargetkan fasilitas energi di Uni Emirat Arab.

Ketegangan semakin meningkat setelah ancaman dari Donald Trump untuk menyerang fasilitas minyak di Pulau Kharg jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Sebagai respons, pejabat militer Iran menyatakan akan membalas dengan menargetkan fasilitas minyak dan gas di negara mana pun yang mendukung serangan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, juga menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mencari gencatan senjata. Ia bahkan menuduh sejumlah negara di kawasan turut mendorong serangan terhadap Iran dengan mengizinkan kehadiran militer AS.

Di dalam negeri, dampak konflik mulai terasa berat. Iran mengklaim ribuan warga sipil telah menjadi korban, termasuk ratusan anak-anak, akibat serangan udara yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya memanas di medan tempur, tetapi juga mulai mengguncang stabilitas energi global dan hubungan antarnegara sekutu.

Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan titik krusial yang bisa menentukan arah krisis dunia.

Bagikan