RS Jiwa di Xiangyang Diduga Jadikan Orang Sehat “Pasien” Demi Klaim Asuransi

1771117491051 img i scmp com cdn cgi image fit contain width 1024 format auto sites default files d8 images canvas 2026 02 04 76614715 4764 42b0 844f 329f43075d30 207bd217

BicaraPlus – Investigasi media Beijing News mengungkap dugaan praktik penipuan asuransi kesehatan di sejumlah fasilitas psikiatri di Xiangyang, Tiongkok. Laporan tersebut memicu kemarahan publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

Dalam investigasi itu disebutkan banyak “pasien” sebenarnya tidak memiliki gangguan mental jelas dan hampir tidak mendapat perawatan signifikan. Beberapa mengaku bersedia dirawat karena dijanjikan rawat inap dan biaya hidup gratis.

Sistem kesehatan di China memungkinkan sebagian biaya rumah sakit ditanggung asuransi publik. Namun, investigasi menemukan data pasien diduga digunakan rumah sakit untuk membuat catatan perawatan fiktif demi mencairkan dana asuransi.

Seorang perawat bahkan mengaku dirinya terdaftar sebagai pasien administratif meski tetap bekerja normal tanpa terapi atau obat khusus.

Data tagihan menunjukkan seorang pasien rawat inap 90 hari dikenai biaya lebih dari 12 ribu yuan, sementara biaya obat hanya sebagian kecil. Pasien tersebut mengaku hanya minum obat rutin tanpa tindakan medis lain.

Banyak RS Jiwa Baru Bermunculan

Kota Xiangyang berpenduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan memiliki lebih dari 20 rumah sakit jiwa, sebagian besar baru berdiri dalam beberapa tahun terakhir.

Reporter investigasi yang menyamar sebagai keluarga pasien menghubungi sejumlah fasilitas dan hampir semuanya menawarkan rawat inap gratis dengan biaya hidup minimal.

Di Rumah Sakit Jiwa Xiangyang Hong’an, misalnya, sebagian pasien disebut lansia tanpa gejala berat. Beberapa bahkan menganggap fasilitas itu seperti panti jompo murah.

Selain itu, rumah sakit dilaporkan memberi komisi ratusan hingga seribu yuan bagi pihak yang merujuk pasien baru.

Otoritas Mulai Menyelidiki

Setelah laporan viral dan ditonton puluhan juta kali, otoritas kesehatan di Xiangyang dan Yichang mengumumkan penyelidikan resmi pada awal Februari.

Kasus ini kembali memicu sorotan publik terhadap transparansi sistem kesehatan dan potensi penyalahgunaan dana asuransi di negara tersebut.

Bagikan