
BicaraPlus – Pemerintah membuka peluang lebih luas bagi perusahaan Amerika Serikat untuk masuk ke sektor mineral kritis Indonesia.
Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan investasi tetap harus tunduk pada aturan nasional dan mendukung agenda hilirisasi.
“Untuk mineral kritikal seperti nikel, logam tanah jarang, dan lainnya, kami bersepakat memfasilitasi pengusaha AS untuk investasi dengan tetap menghargai aturan yang berlaku di negara kita,” ujar Bahlil di Washington D.C., Jumat (20/2).
Menurut dia, Indonesia memberi ruang setara bagi semua negara, termasuk AS, selama proyek tersebut mendorong pemurnian dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Bahlil menepis anggapan bahwa kerja sama ini membuka kembali keran ekspor bahan mentah.
“Jangan diartikan kita akan membuka ekspor barang mentah. Tidak. Mereka harus melakukan pemurnian dulu, baru hasilnya bisa diekspor,” tegasnya.
Ia mencontohkan investasi yang sudah berjalan sebelumnya, seperti oleh Freeport Indonesia, bahkan sebelum kesepakatan dagang terbaru diteken.
Pemerintah juga telah memetakan sejumlah wilayah tambang prospektif yang siap ditawarkan kepada investor. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga momentum hubungan ekonomi strategis Indonesia-AS.
Selain menarik modal, pemerintah menargetkan percepatan eksekusi proyek agar berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok domestik.
Mineral kritis seperti nikel dan logam tanah jarang kini menjadi komoditas strategis global, terutama untuk industri baterai dan energi bersih.
Lewat skema ini, pemerintah menegaskan dua hal: Indonesia terbuka pada investasi global, tetapi tetap berdaulat dalam pengelolaan sumber daya alam dan konsisten menjalankan hilirisasi.




