Purbaya: APBN Tetap Kuat, Siap Tahan Dampak Gejolak Global

CHY 1399 1

BicaraPlus – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih kuat di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya, APBN tetap mampu menjadi penopang ekonomi meski tekanan geopolitik meningkat.

“Sepanjang triwulan I 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun. Angka ini tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkap Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).

Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak yang tumbuh cukup tinggi, yakni 20,7 persen secara tahunan.

Purbaya menjelaskan, lonjakan juga terlihat pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM yang naik hingga 57,7 persen. Menurutnya, hal ini menjadi sinyal aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin meningkat.

Sementara itu, penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi juga tumbuh 15,8 persen. Ini menunjukkan adanya perbaikan pendapatan masyarakat sekaligus peningkatan kepatuhan pajak.

Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target. Meski sempat turun akibat fluktuasi harga komoditas, realisasinya masih dinilai sesuai rencana.

Dari sisi belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan hingga 31,4 persen. Hingga akhir Maret, defisit APBN tetap terjaga di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menegaskan, pemerintah juga sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk untuk menjaga stabilitas harga energi.

“Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut masih aman meski harga minyak dunia diasumsikan menyentuh 100 dolar AS per barel.

Untuk menghadapi risiko yang lebih besar, pemerintah juga memiliki cadangan anggaran atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.

Dari sisi makroekonomi, inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,48 persen. Namun jika faktor penyesuaian harga listrik dikeluarkan, inflasi riil berada di kisaran 2,51 persen.

Kinerja sektor manufaktur juga menunjukkan tren positif dengan ekspansi selama delapan bulan berturut-turut.

Pemerintah pun optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 bisa mencapai 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi.

Indikator konsumsi seperti penjualan kendaraan dan konsumsi semen juga menunjukkan daya beli masyarakat yang masih terjaga.

“APBN kita masih kuat. Kita sudah siapkan berbagai lapisan perlindungan agar ekonomi tetap aman dan masyarakat terlindungi,” pungkas Purbaya.

Bagikan