
BicaraPlus – Upaya penyelesaian konflik Rusia–Ukraina memasuki babak baru setelah Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina membentuk kerangka negosiasi trilateral di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pertemuan yang berlangsung pada 23–24 Januari itu menjadi dialog langsung pertama antara Moskow dan Kyiv setelah jeda enam bulan sejak perundingan terakhir di Istanbul.
Meski belum menghasilkan kesepakatan konkret, seluruh pihak menggambarkan putaran awal pembicaraan sebagai “konstruktif” dan “efektif”. Bagi para pengamat, makna terpenting dari pertemuan ini bukan terletak pada dokumen yang ditandatangani, melainkan pada kembalinya dialog langsung di tengah perang yang terus berlangsung.
Pembentukan Kelompok Kerja Keamanan Trilateral dinilai sebagai langkah maju untuk menarik konflik dari medan tempur kembali ke meja perundingan. Format ini juga mencerminkan pendekatan baru Washington di bawah Presiden Donald Trump, yang kini menempatkan AS sebagai mediator strategis, bukan semata pendukung militer Ukraina.
Dalam sepekan menjelang pertemuan Abu Dhabi, diplomasi bergerak cepat. Delegasi AS yang dipimpin Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner lebih dulu bertemu perwakilan Rusia di Davos, lalu melanjutkan perjalanan ke Moskow untuk pertemuan selama empat jam dengan Presiden Vladimir Putin. Sehari kemudian, delegasi Rusia, AS, dan Ukraina bertemu di Abu Dhabi, sebuah tempo diplomatik yang jarang terjadi dalam konflik Ukraina.
Pertemuan di Abu Dhabi digelar tertutup, dengan sesi pleno dan diskusi kelompok kecil. Komposisi delegasi menunjukkan fokus kuat pada isu keamanan dan kondisi di lapangan. Rusia mengirim perwakilan militer senior yang dipimpin Kepala Direktorat Militer Utama, Laksamana Igor Kostyukov. Ukraina diwakili Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Rustem Umerov, Kepala Staf Presiden Kyrylo Budanov, Ketua fraksi parlemen David Arakhamia, serta Kepala Staf Umum Andriy Hnatov. Delegasi AS melibatkan tokoh-tokoh utama kebijakan luar negeri dan pertahanan, termasuk Witkoff, Kushner, dan Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu NATO di Eropa, Alexus Grynkevich.
Selain format trilateral, jalur dialog bilateral Rusia–AS juga kembali diaktifkan. Saluran ini dipimpin Kirill Dmitriev dan Steve Witkoff, dengan fokus pada isu ekonomi dan aset Rusia yang dibekukan di AS. Langkah ini mengindikasikan upaya membangun “koridor ekonomi” yang diharapkan dapat menopang proses politik.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa topik pembahasan di Abu Dhabi meliputi isu teritorial, kendali atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, langkah-langkah de-eskalasi, serta rancangan kerangka kesepakatan damai jangka panjang. Rusia dan Ukraina sebelumnya telah bertukar memorandum gencatan senjata, sementara AS menyiapkan paket dokumen teknis yang mencakup puluhan poin. Masuknya pembahasan tertulis menandakan proses telah melampaui simbolisme diplomatik dan mulai menyentuh detail teknis.
Namun, kendala utama tetap membayangi. Isu teritorial, terutama Donbas masih menjadi titik paling sensitif. Rusia menuntut penarikan pasukan Ukraina dari wilayah yang diklaim Moskow sebagai bagian dari kedaulatannya. Kyiv menolak tuntutan tersebut, sementara Washington berupaya mencari formula kompromi sementara untuk menjembatani perbedaan.
Usulan gencatan senjata terhadap infrastruktur energi juga mengemuka. AS dan Ukraina mendorong penghentian serangan terhadap fasilitas energi untuk mencegah runtuhnya wilayah belakang Ukraina, terutama di musim dingin. Dari sudut pandang Moskow, proposal ini dinilai lebih menguntungkan Kyiv dan belum disertai konsesi yang seimbang.
Ketegangan di lapangan pun belum mereda. Di tengah negosiasi, serangan lintas wilayah tetap terjadi, memperlihatkan jurang antara proses diplomatik dan realitas perang. Situasi ini menegaskan rapuhnya kepercayaan di antara para pihak.
Bagi para analis, Abu Dhabi kini menjadi simbol peluang sekaligus batasan. Di satu sisi, dialog kembali dibuka, saluran komunikasi militer dan ekonomi diaktifkan, bahkan kemungkinan pertemuan tingkat pemimpin mulai dibicarakan. Di sisi lain, konflik bersenjata terus berlanjut, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan semua pihak untuk beralih dari konfrontasi menuju kompromi.
Dalam jangka pendek, kesepakatan damai komprehensif masih sulit dicapai. Namun, dalam konflik berkepanjangan yang sarat kepentingan geopolitik, kembalinya Rusia, Ukraina, dan AS ke meja perundingan dengan struktur yang jelas tetap dipandang sebagai langkah maju. Abu Dhabi, setidaknya untuk saat ini, menjadi arena tempat perang dan perdamaian dipertaruhkan dalam permainan diplomasi yang rumit.





