Prabowo Curigai Pengkritik di Medsos Dibayar: Giliran Prestasi, Mereka Diam

image 20251028203709

BicaraPlus – Presiden Prabowo Subianto kembali menyinggung pihak-pihak yang kerap mengkritik kebijakan pemerintahannya di media sosial. Ia menegaskan terbuka terhadap kritik dan masukan, namun mengaku heran karena sebagian pengkritik terus-menerus mengangkat isu yang sama.

Menurut Prabowo, kelompok pengkritik tersebut nyaris tak pernah memberikan komentar atau apresiasi saat pemerintah maupun perwakilan negara mencatatkan prestasi. Kondisi itu membuatnya menaruh kecurigaan bahwa kritik yang ramai di media sosial bukan murni aspirasi, melainkan digerakkan oleh kepentingan tertentu.

Prabowo menduga sebagian pengkritik itu merupakan buzzer, yakni individu atau kelompok yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan atau opini secara masif dan terstruktur, dengan imbalan tertentu.

“Ini aneh ya, kesehatan jiwa mereka itu agak aneh. Saya sendiri bingung, tetapi biarlah, tidak ada urusan itu. Saya kira sedikit mereka itu pintarnya hanya di media sosial. Tidak jelas juga itu, jangan-jangan mereka dibayar,” ujar Prabowo saat menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan, Rabu (7/1/2026).

Ia menilai para pengkritik tersebut cenderung abai terhadap capaian positif Indonesia. Prabowo mencontohkan keberhasilan produksi beras nasional yang melampaui kebutuhan dalam negeri, hingga prestasi atlet Indonesia yang meraih medali di ajang olahraga internasional, namun jarang mendapat apresiasi dari kelompok yang sama.

Dalam berbagai kesempatan, Prabowo memang kerap melontarkan sindiran kepada pihak-pihak yang mengkritik program pemerintah. Kritik itu mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga respons pemerintah dalam penanganan bencana. Ia menilai banyak sosok pintar di Indonesia, termasuk kalangan akademisi, justru lebih sering menyebarkan narasi negatif.

Salah satu contoh yang disinggung Prabowo adalah kritik terhadap program MBG. Ia menyebut ada akademisi dan profesor yang menyatakan program tersebut pasti gagal atau tidak berjalan dengan baik. Padahal, menurut Prabowo, jumlah penerima manfaat MBG telah mencapai sekitar 49 juta orang per Desember 2025.

Meski masih di bawah target 82,9 juta penerima manfaat, Prabowo mengklaim capaian tersebut setara dengan lebih dari tujuh kali jumlah penduduk Singapura. “Ada profesor-profesor, ada orang-orang pintar yang mengatakan dalam siaran-siaran mereka MBG pasti gagal,” ujar Prabowo dalam pernyataannya yang dikutip pada Sabtu (6/12/2025).

Selain MBG, Prabowo juga menyinggung kritik terhadap kebijakan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Ia menegaskan pembelian alutsista tidak semata untuk kepentingan pertahanan, melainkan juga memiliki fungsi kemanusiaan.

Prabowo mencontohkan pesawat angkut Airbus A400M yang tiba di Indonesia pada November 2025. Pesawat tersebut, kata dia, sudah dimanfaatkan untuk membantu penanganan bencana di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Bagikan