Potensi Panas Bumi Indonesia Capai 24.000 MW, Baru 9,5 Persen Dimanfaatkan

Potensi Panas Bumi Indonesia Capai 24.000 MW, Baru 9,5% Dimanfaatkan
Foto dari kiri Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, S.Sos., M.M., Ph.D. Staf Ahli Kementerian ESDM, Ali Sahid Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power

BicaraPlus – Potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 24.000 megawatt (MW), tetapi pemanfaatannya untuk pembangkit listrik masih berada di kisaran 2.775 MW atau sekitar 9,5 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan energi panas bumi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power, Ali Sahid, mengatakan panas bumi memiliki posisi strategis karena dapat menghasilkan energi secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang pembangunan ekonomi di wilayah yang selama ini relatif sulit dijangkau. Hal tersebut disampaikan Ali saat menjadi pembicara dalam Diskusi Panel Sarasehan Vol. III bertajuk “Membangun Sinergi Vokasi, Industri, dan Inovasi untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional.”

Menurut Ali, kebutuhan energi tidak dapat dipisahkan dari aktivitas ekonomi. Setiap kegiatan ekonomi membutuhkan energi dan bahan baku untuk menghasilkan barang maupun jasa. Di sisi lain, aktivitas tersebut juga dapat menghasilkan emisi dan limbah.

Dalam konteks tersebut, energi terbarukan seperti panas bumi memiliki peluang untuk menjadi bagian dari solusi karena mampu menyediakan energi dengan dampak lingkungan yang relatif lebih rendah.

Potensi Panas Bumi Indonesia Masih Besar

Photo Bicaraplus 14

Ali mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 300 lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber panas bumi indonesia. Potensi tersebut berkaitan erat dengan kondisi geologi Indonesia yang berada di kawasan pertemuan empat lempeng dunia. Dari total potensi sekitar 24.000 MW tersebut, kapasitas yang telah dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik baru sekitar 2.775 MW.

Angka itu memperlihatkan bahwa pengembangan panas bumi indonesia masih memiliki ruang yang besar. Namun, pemanfaatannya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit, melainkan juga kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, investasi, aspek sosial, dan kondisi geografis lokasi proyek.

Salah satu karakteristik pengembangan panas bumi indonesia adalah lokasi sumber energi yang banyak berada di kawasan terpencil, termasuk wilayah sekitar gunung. Menurut Ali, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang untuk mendorong pembangunan daerah. Kehadiran proyek panas bumi dapat meningkatkan akses energi sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di sekitar wilayah operasi.

Pembangunan energi di kawasan terpencil juga berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap masyarakat melalui terbukanya lapangan pekerjaan, berkembangnya usaha lokal, serta meningkatnya kebutuhan terhadap jasa dan produk masyarakat sekitar. Keunggulan lain panas bumi terletak pada kemampuan pembangkit untuk menghasilkan listrik secara stabil.

Ali menyebut pembangkit panas bumi dapat beroperasi 24 jam sehari, dengan faktor kapasitas sekitar 90–95 persen. Karakteristik tersebut membuat panas bumi memiliki peran penting sebagai sumber energi yang dapat memasok listrik secara berkelanjutan.

Pengembangan Panas Bumi Tidak Cukup Membangun Pembangkit

Di balik besarnya potensi tersebut, pengembangan panas bumi memiliki tantangan yang kompleks. Salah satunya adalah keberadaan proyek di wilayah yang secara geografis tidak mudah dijangkau.

Karena itu, menurut Ali, keberhasilan pengembangan panas bumi tidak dapat hanya diukur dari beroperasinya pembangkit listrik. Industri juga perlu memastikan keberadaan proyek memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui penyelesaian persoalan sosial, program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penguatan bisnis lokal, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ali mencontohkan pengalaman di wilayah operasi PT Sorik Marapi Geothermal Power. Pendekatan terhadap masyarakat dan penyelesaian persoalan sosial dilakukan secara berkelanjutan sehingga berbagai persoalan sosial yang sebelumnya cukup banyak dilaporkan mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

SDM Menjadi Faktor Penting

Selain persoalan teknis dan sosial, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pengembangan industri panas bumi. Lokasi proyek yang berada di daerah terpencil membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan.

Ali menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, determinasi, serta kesiapan bekerja di lapangan bagi sumber daya manusia yang ingin masuk ke industri panas bumi. Hal ini sekaligus memperlihatkan pentingnya hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan teoritis, tetapi juga perlu menyiapkan tenaga kerja yang memahami karakter pekerjaan dan tantangan nyata di sektor energi.

Pengembangan panas bumi pada akhirnya memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan listrik. Jika aspek energi, sosial, lingkungan, sumber daya manusia, dan ekonomi lokal dapat dikembangkan secara beriringan, proyek panas bumi berpotensi menciptakan manfaat berantai bagi daerah.

Mulai dari penyediaan energi, penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya usaha masyarakat, peningkatan kompetensi tenaga kerja, hingga masuknya investasi dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Bagi Indonesia, besarnya potensi panas bumi sekaligus menunjukkan bahwa agenda transisi energi perlu berjalan bersama dengan agenda pembangunan daerah.

Dengan potensi sekitar 24.000 MW dan pemanfaatan yang masih sekitar 9,5 persen, panas bumi menjadi salah satu sektor energi yang masih memiliki ruang pengembangan signifikan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan secara konsisten dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, kelestarian lingkungan, kebutuhan industri, serta kesiapan sumber daya manusia.

Dalam konteks itulah sinergi antara pemerintah, industri, pendidikan vokasi, masyarakat, dan investor menjadi penting agar kekayaan energi panas bumi tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi dan pembangunan ekonomi Indonesia.

Bagikan