
Bicaraplus – Menjelang pergantian tahun, masyarakat dunia merayakan pergantian kalender dengan pesta kembang api, countdown, hingga berbagai tradisi khas. Namun, pergantian Tahun Baru ternyata tidak terjadi secara bersamaan di seluruh dunia. Karena perbedaan zona waktu serta keberadaan Garis Tanggal Internasional (International Date Line), perayaan Tahun Baru berlangsung bertahap dan bisa mencapai selisih hingga 26 jam.
Bumi memiliki banyak zona waktu, bahkan lebih dari 24 zona standar karena adanya penyesuaian setengah jam hingga kebijakan politik beberapa negara. Garis Tanggal Internasional yang berada di Samudra Pasifik menjadi penanda perubahan tanggal global. Wilayah di sebelah timur garis ini lebih dulu memasuki hari baru dibanding wilayah di sebelah baratnya. Beberapa negara bahkan pernah menggeser garis tanggal demi kepentingan ekonomi dan administratif, sehingga terbentuk wilayah dengan waktu paling cepat UTC+14 dan paling lambat UTC-12.
Negara pertama yang menyambut Tahun Baru 2026 adalah Republik Kiribati, khususnya kawasan Line Islands termasuk Pulau Kiritimati atau Christmas Island. Dengan zona waktu UTC+14, wilayah ini menjadi yang paling awal memasuki tengah malam tahun baru. Keputusan Kiribati pada 1995 untuk memindahkan garis tanggal ke timur menjadikan wilayahnya selalu berada di garis awal kalender dunia. Perayaan di sana memang tidak semegah kota-kota besar dunia, namun tetap hangat dengan tradisi lokal, pesta pantai, dan kembang api sederhana. Tak lama setelahnya, wilayah Samoa, Tonga, dan Chatham Islands di Selandia Baru menyusul merayakan pergantian tahun.
Sementara itu, titik terakhir di dunia yang memasuki Tahun Baru 2026 adalah Baker Island dan Howland Island, dua wilayah tak berpenghuni milik Amerika Serikat di Samudra Pasifik. Dengan zona waktu UTC-12, keduanya baru memasuki tahun baru 26 jam setelah Kiribati merayakannya lebih dulu. Karena tidak berpenduduk, tentu tidak ada perayaan di sana. Untuk wilayah berpenghuni terakhir, American Samoa dan Niue merupakan tempat yang paling akhir merayakan Tahun Baru di zona UTC-11.
Fenomena ini melahirkan sejumlah fakta menarik. Saat masyarakat Kiribati sudah berpesta Tahun Baru, di American Samoa masih sore hari tanggal 31 Desember. Secara teori, seseorang bahkan bisa merayakan Tahun Baru dua kali: pertama di wilayah paling awal, lalu berpindah ke wilayah paling akhir meski jaraknya ribuan kilometer dan tidak mudah dilakukan. Indonesia sendiri dengan zona waktu WIB (UTC+7) memasuki Tahun Baru sekitar tujuh jam setelah Kiribati, bersamaan dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.
Perbedaan waktu ini menunjukkan bahwa meski dunia tidak berada pada ritme yang sama, semangat menyambut harapan baru tetap menyatukan semua orang di berbagai belahan bumi.




