Penerimaan Pajak Meningkat, Namun Tekanan Fiskal Masih Jadi Catatan

Desain tanpa judul 23

BicaraPlus – Pemerintah mencatat penerimaan pajak hingga November 2025 terus menunjukkan tren penguatan. Kinerja ini menjadi penopang penting bagi stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi global, meski sejumlah tekanan tetap perlu dicermati. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi bruto penerimaan pajak mencapai Rp1.985,48 triliun, sementara realisasi neto tercatat sebesar Rp1.634,43 triliun atau sekitar 78,7 persen dari Outlook 2025. Secara bulanan, pergerakan penerimaan pajak juga menunjukkan perbaikan. Pada November 2025, pertumbuhan pajak neto tercatat 2,5 persen, membaik dibanding beberapa bulan sebelumnya yang sempat mengalami tekanan. Sinyal positif juga terlihat pada PPN dan PPN Barang Mewah yang kembali tumbuh positif secara bruto, mencerminkan aktivitas transaksi ekonomi yang mulai menguat, meskipun setelah memperhitungkan restitusi kinerjanya masih berada di area negatif namun dengan tren membaik.

Kinerja penerimaan negara turut diperkuat oleh capaian kepabeanan dan cukai. Hingga November 2025, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp269,4 triliun atau 89,3 persen dari APBN dengan pertumbuhan 4,5 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, cukai memberikan kontribusi sebesar Rp198,2 triliun dengan pertumbuhan 2,8 persen, penerimaan bea keluar mencapai Rp26,3 triliun dengan pertumbuhan 52,2 persen, sedangkan bea masuk mencapai Rp44,9 triliun namun masih terkontraksi 5,8 persen akibat sejumlah tekanan eksternal. Di sisi pengawasan, pemerintah memperkuat pemberantasan pelanggaran cukai, khususnya peredaran rokok ilegal. Hingga November 2025 tercatat 17.641 penindakan dengan jumlah barang bukti mencapai 1,001 miliar batang rokok ilegal, meningkat 34,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memastikan program subsidi dan kompensasi tetap berjalan optimal. Hingga November 2025, realisasinya telah mencapai Rp345,1 triliun atau 72,6 persen dari APBN. Dukungan tersebut mencakup subsidi BBM dengan realisasi 15.613,8 ribu KL, LPG 3 kilogram sebanyak 7.092,1 ribu ton, listrik bersubsidi yang dinikmati 42,6 juta pelanggan, serta pupuk bersubsidi sebesar 7,5 juta ton yang disalurkan kepada sektor pertanian. Pemerintah menegaskan bahwa program perlindungan sosial tetap diprioritaskan untuk menjaga stabilitas konsumsi dan menopang pemulihan ekonomi.

Meski tren penerimaan negara menunjukkan perbaikan, pemerintah menilai tekanan fiskal tetap perlu diwaspadai. Faktor global seperti ketidakpastian ekonomi dunia, fluktuasi harga komoditas, serta penyesuaian kebijakan ekonomi negara mitra masih berpotensi memengaruhi kinerja fiskal ke depan. Selain itu, faktor domestik seperti kebutuhan restitusi pajak, stabilisasi harga pangan, dan risiko bencana juga menjadi perhatian. Dengan kombinasi penerimaan pajak yang menguat, kinerja kepabeanan dan cukai yang solid, serta dukungan subsidi yang tetap terjaga, pemerintah optimistis stabilitas fiskal nasional masih berada pada jalur yang aman, dengan konsistensi kebijakan dan penguatan fundamental ekonomi tetap menjadi kunci menghadapi tantangan ke depan.

Bagikan