Peneliti Temukan Kecoak Bisa Urai Plastik Polistiren hingga 55 Persen, Ini Penjelasannya

IMG 20260405 WA0078

BicaraPlus – Polistiren merupakan salah satu jenis plastik yang banyak digunakan karena ringan dan murah. Namun, di balik kepraktisannya, plastik ini sulit terurai dan dapat bertahan di lingkungan dalam waktu sangat lama.

Saat terpecah menjadi mikroplastik, polistiren bisa bertahan di tanah dan air selama ratusan tahun. Partikel ini juga dapat menyerap polutan lain dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga menjadi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan.

Karena itu, para ilmuwan terus mencari solusi untuk mengatasi masalah polusi plastik, termasuk dari jenis polistiren.

Dalam studi terbaru, peneliti menemukan potensi solusi yang cukup unik. Dilansir dari Earth, peneliti dari Harbin Institute of Technology yang bekerja sama dengan Stanford University menemukan bahwa kecoak jenis Blaptica dubia mampu mengurai plastik polistiren.

Hasil penelitian menunjukkan, serangga ini dapat menghilangkan hampir 55 persen polistiren yang dimakannya dalam waktu 42 hari.

Proses tersebut terjadi berkat mikroba di dalam usus kecoak yang mampu menguraikan plastik secara kimiawi. Sementara itu, metabolisme kecoak membantu memproses sebagian hasil penguraian sebagai sumber energi.

Laju Penguraian Cukup Tinggi

Para ilmuwan sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa beberapa serangga bisa mengonsumsi polistiren. Namun, prosesnya biasanya sangat lambat.

Selain itu, sering kali sulit memastikan apakah plastik benar-benar terurai secara kimiawi atau hanya hancur menjadi potongan kecil.

Dalam penelitian ini, setiap kecoak diketahui mengonsumsi sekitar 6 miligram polistiren per hari. Selama 42 hari, sekitar 54,9 persen plastik yang dimakan berhasil terurai.

Tingkat penguraian ini mencapai sekitar 3,3 miligram per kecoak per hari—angka yang dinilai lebih tinggi dibandingkan serangga pemakan plastik lainnya.

Bukan untuk Dilepas ke Alam

Meski terdengar menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti kecoak bisa langsung dilepas ke alam untuk mengatasi polusi plastik.

Nilai utama dari penelitian ini terletak pada sistem pencernaan kecoak yang dianggap sebagai “model alami” dalam mengurai polimer sintetis yang sulit hancur.

Dengan kata lain, kecoak dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah plastik yang lebih efektif di masa depan.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Ecotechnology.

Bagikan