
BicaraPlus – Bagi sebagian orang, vape adalah gaya hidup. Tampilannya yang modern, pilihan rasanya yang menggoda, dan anggapan “lebih aman” membuatnya menjadi primadona, terutama di kalangan anak muda. Namun, di balik awan uap yang mengepul, tersimpan ancaman serius yang kini menjadi bom waktu kesehatan di Indonesia. Para ahli kesehatan, dari bedah jantung hingga dokter spesialis, sepakat bahwa bahaya vape bukanlah isapan jempol, melainkan fakta yang perlahan, namun pasti merusak tubuh penggunanya.
Paru-paru Popcorn hingga Penyakit Jantung
Dr. Jeremy London, seorang ahli bedah jantung ternama di Savannah, Georgia, secara gamblang menjelaskan mengapa vape sangat berbahaya. Cairan vape mengandung senyawa diacetyl dan formaldehydes. Ketika dihirup, zat-zat ini langsung merusak kantung udara di paru-paru, memicu kondisi yang dikenal sebagai paru-paru popcorn (bronkiolitis obliterans).
Kondisi ini sangat serius karena mengganggu fungsi paru-paru dalam pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2), yang bisa berujung pada perawatan intensif di rumah sakit, bahkan kematian.
Selain itu, nikotin dalam vape adalah masalah besar lainnya. Nikotin adalah vasokontriktor kuat yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Tanpa regulasi yang jelas, kandungannya dalam vape seringkali tak terkendali.
Terlebih, kebiasaan vaping yang bisa dilakukan di mana saja meningkatkan paparan nikotin yang tak terukur ini. Paparan nikotin tinggi secara konsisten akan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, yang pada gilirannya memicu serangan jantung dan stroke.
Belum lagi, vape juga mengandung zat pemicu kanker seperti formaldehydes, serta materi beracun seperti timbal, timah, dan nikel. Partikel-partikel berat ini sulit dikeluarkan dari paru-paru begitu terhirup, menambah beban racun dalam tubuh.
Mengapa Anak Muda Terjebak Vape?
Jawaban sederhananya adalah pemasaran yang agresif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa produsen vape secara sengaja menargetkan anak-anak dan remaja. Kemasan yang berwarna-warni, ribuan varian rasa, dan promosi melalui media sosial dengan bantuan para influencer membuat vape terlihat keren dan tidak berbahaya.
Fenomena ini menjadi perhatian global. Di Inggris, pemerintah telah melarang penjualan vape sekali pakai dan memberikan hukuman berat, termasuk denda tak terbatas dan hukuman penjara, bagi para pelanggar. Proyek penelitian senilai triliunan rupiah juga diluncurkan untuk melacak dampak jangka panjang vape pada 100.000 anak selama satu dekade.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan memperingatkan bahwa “anak-anak direkrut dan dijebak pada usia dini untuk menggunakan rokok elektrik dan mungkin kecanduan nikotin.”
Indonesia di Ambang Krisis Kesehatan
Dr. Bobby Arfhan Anwar, seorang dokter spesialis jantung dan content creator, menyebut bahwa di Indonesia, dampak buruk jangka panjang dari vape hanyalah masalah waktu. Sejak 2019, berbagai organisasi kedokteran sudah memperingatkan bahaya vape, namun jumlah pengguna terus meningkat. Menurut data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) tahun 2024, terdapat sekitar 4 juta pengguna aktif rokok elektrik di Indonesia.
Meskipun ada penurunan kecil dalam penggunaan di kalangan remaja, angka ini tetap mengkhawatirkan. “Kita hanya tinggal menunggu waktu mungkin 5-10 tahun lagi ketika studi-studi yang meneliti dampak buruk jangka panjang vape akan bermunculan,” ujarnya.
Sederhananya, vape bukanlah alternatif yang aman untuk rokok konvensional, melainkan masalah kesehatan baru dengan bahaya yang sama seriusnya. Seperti kata pepatah, “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Menghentikan kebiasaan merokok maupun vaping adalah pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan.
Apakah kita akan menunggu hingga dampak kesehatan jangka panjang ini benar-benar menjadi epidemi, atau kita akan bertindak sekarang?