
BicaraPlus – Kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury oleh negara-negara asing kembali menjadi perhatian pasar global. Data terbaru menunjukkan total kepemilikan asing mencapai sekitar US$9,2 triliun pada September 2025. Angka ini menegaskan posisi obligasi AS sebagai instrumen investasi paling aman sekaligus paling likuid di dunia, sehingga menjadi pilihan utama bank sentral dan investor institusi dalam menempatkan cadangan devisa.
Jepang tercatat sebagai pemegang terbesar dengan nilai sekitar US$1,18 triliun, disusul Inggris sekitar US$865 miliar dan China sekitar US$700 miliar. Negara lain seperti Kanada, Belgia, Luksemburg, hingga pusat keuangan global seperti Cayman Islands juga memiliki kepemilikan signifikan. Struktur kepemilikan ini menunjukkan bagaimana dominasi dolar AS masih sangat kuat dalam sistem keuangan internasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik yang mendorong investor mencari aset safe haven.
Secara ekonomi, pembelian obligasi AS oleh negara-negara tersebut memiliki sejumlah tujuan strategis. Selain untuk menjaga stabilitas cadangan devisa, investasi pada US Treasury juga digunakan untuk mengelola nilai tukar dan menjaga daya saing ekspor. Negara dengan surplus perdagangan besar cenderung menempatkan dana dalam aset dolar guna menyeimbangkan arus perdagangan dan memperkuat stabilitas makroekonomi. Likuiditas pasar obligasi AS yang sangat tinggi membuat investor dapat membeli dan menjual dalam jumlah besar tanpa menimbulkan guncangan harga yang signifikan, sehingga risiko investasi relatif lebih rendah dibandingkan instrumen lainnya.
Di sisi lain, tren global menunjukkan adanya upaya diversifikasi cadangan devisa oleh beberapa negara besar. China misalnya mulai mengurangi kepemilikan obligasi AS dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari strategi memperkuat mata uang domestik dan mengurangi ketergantungan pada dolar. Langkah serupa juga dipertimbangkan oleh sejumlah negara berkembang yang ingin memperluas portofolio investasi ke emas, mata uang alternatif, maupun aset digital. Namun demikian, dominasi US Treasury masih sulit tergantikan dalam jangka pendek karena belum ada pasar obligasi lain yang memiliki kedalaman dan kepercayaan investor setara dengan Amerika Serikat.
Kondisi ini memiliki implikasi luas terhadap ekonomi global. Permintaan yang tinggi terhadap obligasi AS membantu menekan biaya pinjaman pemerintah Amerika sehingga menjaga stabilitas suku bunga internasional. Yield US Treasury menjadi acuan utama dalam menentukan harga aset keuangan di seluruh dunia, mulai dari obligasi negara berkembang hingga suku bunga kredit perbankan. Namun jika terjadi penjualan besar-besaran oleh negara pemegang utama, yield dapat melonjak tajam dan memicu volatilitas pasar keuangan global. Situasi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari negara berkembang menuju aset dolar yang dianggap lebih aman.
Bagi Indonesia, dinamika kepemilikan obligasi AS memiliki dampak langsung maupun tidak langsung. Penguatan dolar akibat tingginya permintaan US Treasury dapat menekan nilai tukar rupiah, terutama jika disertai kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Kondisi ini dapat memengaruhi arus investasi asing di pasar saham dan obligasi domestik, sekaligus meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah dan sektor swasta. Di sisi lain, stabilitas pasar obligasi AS juga memberikan kepastian bagi sistem keuangan global yang pada akhirnya mendukung perdagangan internasional dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Ke depan, arah kepemilikan obligasi AS akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, tensi geopolitik, serta kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah Amerika yang terus meningkat. Investor akan mencermati pergerakan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas politik sebagai faktor utama dalam menentukan strategi investasi. Dalam konteks tersebut, posisi US Treasury sebagai aset safe haven kemungkinan masih akan bertahan, meskipun tren diversifikasi cadangan devisa akan semakin menguat seiring perubahan lanskap ekonomi global.
Fenomena kepemilikan utang AS oleh negara-negara asing bukan sekadar persoalan investasi, tetapi juga mencerminkan hubungan ekonomi dan kekuatan geopolitik di tingkat internasional. Perubahan komposisi kepemilikan dapat menjadi sinyal penting bagi arah pasar keuangan, nilai tukar, serta stabilitas ekonomi dunia dalam beberapa tahun mendatang.





