Mulut Sahroni Jadi Bumerang: Saat Kata-Kata Menumbangkan Jabatan

Untitled design 16 1

BicaraPlus – Pepatah lama mengatakan “mulutmu, harimaumu.” Ungkapan ini tampaknya tepat ditujukan kepada Ahmad Sahroni, politisi flamboyan dari Partai NasDem yang pada hari ini, Senin (31/8) harus menelan pil pahit: dinonaktifkan oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dari jabatannya sebagai anggota DPR RI.

Langkah tegas ini disebut-sebut sebagai buntut dari sederet kontroversi Sahroni, yang kerap menuai kritik publik akibat ucapannya yang dianggap kasar, arogan, hingga merendahkan masyarakat.

Kontroversi “Orang Tolol Sedunia”

Gelombang kritik paling panas datang dari pernyataan Sahroni saat kunjungan kerja ke Polda Sumatera Utara, Jumat (22/8). Di hadapan audiens, ia menyebut masyarakat yang menyerukan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia.”

“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia,” cetus Sahroni.

Komentar pedas ini muncul setelah publik ramai membicarakan besarnya gaji dan tunjangan anggota DPR yang bisa menembus Rp230 juta per bulan. Angka fantastis itu dinilai tidak sebanding dengan kinerja dewan yang dianggap lemah dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.

Alih-alih meredakan situasi, ucapan Sahroni justru menambah bara. Banyak warganet merasa dihina, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Kritik Para Pendemo

Sahroni juga kembali membuat pernyataan yang kembali memicu amarah publik. Ia menegaskan dukungannya terhadap aparat kepolisian yang menangkap peserta aksi unjuk rasa, bahkan jika mereka masih di bawah umur.

“Bayangin, di bawah umur aja begitu brengseknya bersikap. Ini enggak bisa dibiarkan,” kata Sahroni (26/8).

Pernyataan tersebut sontak viral di media sosial. Banyak pihak menilai Sahroni bersikap arogan, anti-kritik, dan gagal memahami esensi demokrasi yang memberi ruang bagi masyarakat menyampaikan aspirasi.

Publik Bereaksi

Respons keras pun bermunculan. Kolom komentar di akun media sosial Sahroni dipenuhi hujatan warganet. Mereka mempertanyakan kualitas seorang wakil rakyat yang seharusnya menjadi teladan dalam berkomunikasi.

Bagi sebagian orang, kontroversi ini menjadi pelajaran penting: seorang anggota DPR tidak hanya dituntut memahami kebijakan, tetapi juga wajib menguasai seni berbicara di ruang publik. Satu kalimat yang keluar bisa menjadi bumerang, merusak citra pribadi sekaligus institusi yang diwakilinya.

Catatan Penting bagi DPR

Kasus Ahmad Sahroni menjadi alarm keras bagi parlemen. Rakyat menuntut wakilnya untuk lebih berhati-hati, rendah hati, dan peka terhadap suara publik. Dalam era media sosial, setiap ucapan mudah direkam, disebar, dan dianalisis jutaan pasang mata.

Pepatah “mulutmu, harimaumu” sekali lagi terbukti. Dan untuk Sahroni, harimau itu kini telah menggigit balik dengan konsekuensi politik yang nyata: pencopotan dari kursi empuk di Senayan.

Bagikan