Momen Langka, Kucing Kuwuk Terekam Kamera di Ujung Kulon

Kucing Kuwuk di Ujung Kulon Dok Uci Sanusi YIARI5

BicaraPlus – Pukul 21.00 WIB, tepian sawah di Desa Keramatjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, basah oleh sisa hujan. Cahaya senter menyapu vegetasi di batas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Malam itu sunyi, hingga sepasang mata berkilat muncul dari balik semak.

Seekor kucing kuwuk berdiri sekitar 20–30 meter dari tim survei.

Bagi Uci Sanusi (31), staf lapangan sekaligus praktisi konservasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), perjumpaan pada Agustus 2025 itu jadi pengalaman pertama yang tak terlupakan. Setelah bertahun-tahun hanya melihat foto satwa ini di media sosial, ia akhirnya menyaksikannya langsung di alam liar.

“Saya benar-benar tidak menyangka,” ujarnya mengenang momen tersebut, beberapa waktu lalu.

Muncul di Lanskap Peralihan

Perjumpaan itu tidak direncanakan. Uci dan tim tengah melakukan survei lokasi pelepasliaran kukang jawa (Nycticebus javanicus) di Resort Kopi Ujung Kulon. Survei siang hari difokuskan pada analisis vegetasi dan ketersediaan pakan, sementara malam hari untuk memastikan keberadaan satwa nokturnal.

Metode yang digunakan adalah line transect, menyusuri jalur tertentu untuk mencatat temuan satwa.

Namun lokasi kemunculan kucing kuwuk bukan di hutan lebat, melainkan di lanskap peralihan, sawah warga yang berbatasan langsung dengan semak dan vegetasi alami yang tersambung ke taman nasional. Ruang-ruang seperti inilah yang sering menjadi habitat penting bagi satwa liar yang beradaptasi dengan aktivitas manusia.

Saat pertama terlihat, kucing itu tak langsung kabur. Ia diam, menoleh, memerhatikan sekitar.

“Awalnya cuma diam dan melihat. Saya pakai kamera dengan sensor infra, jadi terlihat jelas,” kata Uci.

Hampir 20 menit, mamalia nokturnal itu bergerak perlahan di antara semak dan pematang sawah. Tak ada tanda agresif atau panik. Bahkan pada satu momen, ia melakukan grooming, menjilati bulunya yang mungkin basah oleh hujan.

“Itu gerakan paling saya ingat. Posisinya terbuka, tak terhalang apa pun,” kenang Uci.

Keheningan pecah ketika anggota tim lain menyusul dan bertanya apa yang terjadi. Suara tersebut membuat sang kucing berlari dan menghilang dalam gelap.

Bukan Kucing Biasa

Kucing kuwuk dikenal juga sebagai kucing hutan atau leopard cat, memiliki nama ilmiah Prionailurus javanensis. Corak tubuhnya bertotol, sekilas mirip macan tutul dalam versi mini. Tubuhnya ramping, kaki lebih panjang dibanding kucing domestik, dan dikenal sebagai pemburu ulung.

Balai Taman Nasional Ujung Kulon sebelumnya pernah mengingatkan publik melalui media sosial bahwa ini bukan kucing rumah biasa.

Secara global, spesies leopard cat tersebar luas di Asia Selatan hingga Asia Timur. Menurut Nurul Inayah, periset Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, revisi taksonomi 2017 membagi kelompok ini menjadi Mainland Leopard Cat (P. bengalensis) dan Sunda Leopard Cat (P. javanensis). Di Indonesia, yang ditemukan adalah P. javanensis dengan subspesies Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Meski berstatus Least Concern menurut IUCN, di Indonesia kucing kuwuk termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018.

“Informasi keberadaannya masih banyak bersumber dari laporan citizen science, sehingga riset terstruktur tetap diperlukan,” jelas Nurul.

Bagi Uci, dokumentasi bukan hanya soal mendapatkan gambar. Ada etika yang tak boleh dilanggar.

Ia menggunakan senter bercahaya kekuningan, bukan putih terang, agar tidak mengganggu penglihatan satwa nokturnal. Ia juga menjaga jarak, bergerak perlahan, dan menghindari suara keras.

“Jangan sampai kehadiran kita bikin satwa stres,” katanya.

Medannya pun tidak mudah, sawah miring, tanpa jalur setapak jelas, dan terdapat jurang kecil. Ia tak memaksakan diri mendekat.

Dari perjumpaan singkat itu, Uci berhasil mengabadikan lima foto dengan sudut berbeda, termasuk momen grooming yang menjadi favoritnya. Foto-foto tersebut menjadi bukti bahwa kucing kuwuk masih bertahan di lanskap Ujung Kulon, bahkan di wilayah yang bersinggungan langsung dengan manusia.

“Bukti bahwa kawasan ini masih layak bagi satwa liar,” pungkasnya.

Di balik 20 menit perjumpaan itu, tersimpan pesan yang lebih besar bahwa satwa liar masih ada, masih bertahan—selama ruang hidupnya dijaga dan manusia tahu batasnya.

Bagikan