Militer Iran Melemah, Tapi Strategi Serangan Kecilnya Bikin Dunia Khawatir

1773723375336 gettyimages 1230595884 1772851697 jpg

BicaraPlus – Serangan besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel membuat kekuatan militer Iran melemah drastis. Namun, ancaman dari Teheran belum benar-benar hilang.

Alih-alih melancarkan serangan besar, Iran kini mengubah taktik. Mereka memilih serangan kecil yang menyebar, tapi cukup untuk memicu kepanikan dan mengguncang ekonomi global.

Sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari, kemampuan tempur Iran disebut menurun tajam. Dalam pernyataan resmi pada 14 Maret, Gedung Putih menyebut kemampuan rudal jelajah Iran telah “hancur secara fungsional”. Angkatan lautnya juga dinilai tak lagi mampu bertempur, sementara wilayah udara Iran disebut telah dikuasai sepenuhnya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan mengklaim bahwa fasilitas produksi drone Iran telah dihancurkan oleh serangan militer.

Data di lapangan memperkuat klaim tersebut. Pada hari pertama konflik, Iran masih mampu meluncurkan ratusan serangan dalam waktu singkat. Namun memasuki hari ke-15, jumlah itu turun drastis hingga hanya tersisa beberapa rudal dan drone saja.

Penurunan ini juga terlihat dari laporan Pentagon yang mencatat serangan rudal Iran turun hingga 90 persen, sementara penggunaan drone merosot sekitar 86 persen dibandingkan hari pertama pertempuran.

Meski begitu, Iran belum sepenuhnya kehilangan kemampuan menyerang. Sejumlah peluncur rudal masih tersisa dan sulit dideteksi. Para analis menilai, sebagian sistem persenjataan itu telah disembunyikan di lokasi non-militer sebelum konflik dimulai, sehingga tidak mudah dilacak.

Di tengah keterbatasan tersebut, Iran mulai mengubah strategi. Mereka tidak lagi mengandalkan serangan besar yang terpusat, melainkan serangan kecil yang dilakukan secara berkala.

Targetnya pun bergeser. Jika sebelumnya fokus pada sasaran militer, kini serangan diarahkan ke infrastruktur sipil dan komersial, terutama di kawasan Teluk. Meski dampaknya terbatas secara militer, serangan semacam ini dinilai efektif menciptakan tekanan psikologis dan kepanikan.

Salah satu kekuatan utama Iran dalam strategi ini adalah penggunaan drone murah seperti Shahed 136. Drone ini dapat diproduksi dalam jumlah besar dan tidak memerlukan sistem peluncuran yang kompleks.

Walau memiliki kecepatan rendah dan relatif mudah ditembak jatuh, drone tersebut tetap berbahaya jika digunakan secara masif. Dalam kondisi tertentu, satu serangan yang berhasil menembus pertahanan saja sudah cukup untuk menimbulkan efek besar.

Dampaknya mulai terlihat di lapangan. Pada 16 Maret, serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di sekitar Bandara Internasional Dubai. Insiden lain juga terjadi di kawasan industri Fujairah.

Ketegangan juga meluas ke Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Ancaman serangan membuat ratusan kapal sempat terhenti, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global.

Situasi ini berdampak langsung pada ekonomi. Harga minyak melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel. Sementara itu, produksi minyak di wilayah selatan Irak dilaporkan turun signifikan.

Para pengamat menilai, langkah Iran ini merupakan bagian dari strategi perang asimetris. Tujuannya bukan untuk meraih kemenangan cepat di medan tempur, melainkan menekan lawan secara perlahan melalui gangguan ekonomi dan psikologis.

Jika tekanan terhadap harga energi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan, tetapi juga bisa meluas hingga ke Amerika Serikat dan pasar global.

Bagikan