Menkeu Purbaya: Anjloknya IHSG Akibat Sentimen MSCI Berlebihan, Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Bayu 7

BicaraPlus – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 8 persen yang sempat memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) merupakan reaksi pasar yang berlebihan terhadap pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“IHSG jatuh karena berita MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham. Ini saya pikir reaksi berlebihan, karena itu baru laporan pertama, masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei,” kata Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Purbaya menjelaskan, keputusan MSCI tersebut masih berada pada tahap awal dan belum bersifat final. Pemerintah, kata dia, memiliki waktu hingga Mei 2026 untuk menindaklanjuti berbagai catatan yang disampaikan lembaga penyedia indeks global tersebut.

Ia mengungkapkan telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan perbaikan dilakukan sebelum batas waktu yang ditentukan. Menurut Purbaya, isu transparansi dan kelayakan investasi (investability) pasar modal Indonesia akan dibereskan secara menyeluruh.

“Saya sudah bicara dengan Ketua OJK, Pak Mahendra. Masalah-masalah yang dikeluhkan MSCI akan kita bereskan sebelum bulan Mei,” ujarnya.

Purbaya optimistis emiten-emiten domestik tetap mampu memenuhi kriteria MSCI sehingga saham Indonesia dapat kembali masuk dalam indeks global dan tetap menjadi tujuan investasi investor asing.

“Perusahaan-perusahaan itu akan bisa memenuhi syarat MSCI dan masuk ke indeks MSCI maupun saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global,” katanya.

Pada perdagangan hari ini, IHSG mengalami tekanan jual besar sejak pembukaan hingga memicu trading halt. Setelah perdagangan kembali dibuka, tekanan jual berlanjut dan IHSG ditutup melemah 7,35 persen ke level 8.320,56. Pelemahan tersebut dipicu sentimen negatif pasar atas keputusan MSCI yang membekukan kenaikan bobot saham Indonesia setelah konsultasi global terkait free float dan tingkat investability pasar domestik.

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa kondisi pasar saham tersebut tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebut perekonomian nasional masih berada dalam kondisi solid dan menunjukkan perbaikan berkelanjutan, didukung oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Salah satu indikator yang disorot adalah pertumbuhan uang primer (M0). Berdasarkan data BI, M0 pada Desember 2025 tumbuh 16,8 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan November 2025 yang sebesar 13,3 persen.

“Jadi harusnya M0 akan tumbuh dua digit dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ujar Purbaya.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga berkomitmen memperbaiki mekanisme pengumpulan pajak dan cukai agar lebih optimal tanpa menaikkan tarif. Selain itu, belanja kementerian dan lembaga akan terus didorong agar tepat waktu dan tepat sasaran.

Purbaya menambahkan, pemerintah juga serius memperbaiki iklim investasi melalui sidang-sidang debottlenecking yang membahas hambatan regulasi dan operasional di lapangan.

“Ke depan akan ada kasus-kasus besar yang masuk, dan itu akan menunjukkan bahwa Indonesia serius memperbaiki iklim investasi,” ucapnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Purbaya meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tetap berpeluang mencapai 6 persen. Ia bahkan menilai koreksi pasar saham akibat sentimen MSCI dapat menjadi momentum bagi investor.

“Kalau bursa saham jatuh karena itu dan kita tahu akan diperbaiki sebelum Mei, harusnya sekarang ini a good time to buy,” pungkasnya.

Bagikan