
BicaraPlus – Gunung Rinjani masih memegang daya tarik magisnya bagi para petualang. Sepanjang tahun 2025, gunung setinggi 3.726 mdpl ini telah mencatatkan kunjungan sebanyak 80.214 pendaki yang mencoba menaklukkan jalur terjalnya. Menariknya, pesona Rinjani tampaknya masih lebih kuat memikat mata dunia; tercatat wisatawan mancanegara mendominasi jalur pendakian dengan angka 43.236 orang, melampaui pendaki domestik yang berjumlah 36.978 orang.
Namun, wajah Rinjani bukan hanya soal mereka yang memanggul keril hingga ke puncak atau tepian Segara Anak. Ada sisi lain kawasan ini yang dinikmati dengan cara yang lebih santai. Berdasarkan data dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), terdapat 52.108 pelancong yang memilih destinasi non-pendakian. Berbeda terbalik dengan tren pendakian, sektor ini justru menjadi primadona bagi turis lokal dengan jumlah mencapai 51.311 orang, sementara wisatawan asing hanya terhitung sebanyak 797 orang.
Jika semua angka tersebut digabungkan, total manusia yang menapakkan kaki di kawasan TNGR sepanjang 2025 mencapai 132.322 orang. Angka ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGR, Budi Soesmardi, di Mataram pada Senin (12/1). Meski sekilas terlihat besar, angka ini sebenarnya membawa kabar tentang penurunan tren kunjungan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2024, Rinjani sempat merasakan riuh yang lebih padat. Kala itu, sebanyak 93.796 pendaki tercatat melakukan perjalanan, dengan komposisi yang hampir berimbang antara 47.716 turis asing dan 46.126 turis nusantara. Secara keseluruhan, tahun 2024 ditutup dengan total kunjungan mencapai 189.091 orang, sebuah angka yang terpaut cukup jauh dibandingkan capaian tahun 2025.
Penurunan jumlah pengunjung ini menjadi catatan tersendiri bagi pengelolaan salah satu taman nasional paling ikonik di Indonesia ini. Apakah ini merupakan dampak dari pengetatan kuota demi keberlanjutan ekosistem, ataukah ada faktor lain yang membuat langkah para petualang sedikit tertahan menuju puncak Dewi Anjani? Yang pasti, Rinjani tetap berdiri megah, menanti kembalinya hiruk-pikuk para pecinta alam di musim-musim mendatang.





