Mengenang Frank Caprio: Hakim yang Mengetuk Palu dengan Hati

20250823 111719 0000

Di banyak ruang sidang, palu hakim identik dengan ketegangan. Dentumnya kerap membuat siapa pun terperanjat, seperti petir yang memutuskan nasib. Namun, di ruang sidang kecil di Providence, Rhode Island, dentum itu terdengar berbeda. Palu di tangan seorang lelaki tua bernama Frank Caprio tidak sekadar mengetuk hukum, melainkan juga hati.

Dari balik jubah hitam, ia menghadirkan wajah keadilan yang hangat. Orang-orang kecil yang datang ke hadapannya, buruh, imigran, pelajar, orang tua yang kebingungan, tidak disambut intimidasi, melainkan empati. Kamera televisi yang merekam setiap persidangan justru membiarkan dunia menyaksikan sisi lain hukum: bahwa keadilan bisa ramah, bisa tersenyum, bahkan bisa menangis.

Akar Kehangatan
Frank Caprio lahir pada 24 November 1936 di Providence, dari keluarga imigran Italia sederhana. Ayahnya penjual buah keliling, ibunya seorang ibu rumah tangga yang sabar. Sejak kecil ia tahu arti kerja keras: mengantar koran sebelum matahari terbit, membersihkan sepatu orang lain, hingga membantu mengantar susu.

Suatu ketika, ayahnya menyentuh bahunya dan berkata, “Suatu hari kamu akan menjadi pengacara… tapi kamu tidak bisa mengenakan tarif tinggi kepada orang miskin. Akan selalu ada yang mampu membayarmu.” Kalimat itu membekas, membentuk cap: keadilan bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga menjaga harga diri orang yang tak berdaya.

Caprio meniti jalan hukum, menjadi pengacara, lalu hakim di Providence Municipal Court sejak 1985. Tapi yang membuatnya mendunia bukanlah jabatan, melainkan cara ia menempatinya dengan belas kasih dan akal sehat.

Anak Kecil yang Jadi Hakim
Hari itu seorang pria bernama Victor datang ke ruang sidang karena menerobos batas kecepatan. Ia membawa anak lelakinya, Jacob. Bocah itu diam di kursi pengunjung, sementara sang ayah menunggu putusan.

Namun, alih-alih langsung memutuskan, Caprio menoleh ke si bocah. “Jacob, maukah kamu bantu saya memutuskan kasus ini?” tanyanya lembut. Jacob duduk di kursi hakim dengan malu-malu. Caprio menjelaskan, “Ayahmu ditilang. Ada tiga pilihan: bebaskan, beri denda, atau tunda.” Jacob berpikir, lalu menjawab polos, “Bebas.”

Ruang sidang meledak oleh tawa haru. Palu diketuk, bukan untuk menghukum, tetapi membebaskan. Video itu menjadi viral, jutaan kali ditonton, membuktikan bahwa hukum pun bisa memiliki ruang bermain dan getirnya diskresi berlalu demi belas kasih.

Ibu yang Kehilangan Putra
Suasana sidang lain sangat berbeda. Seorang perempuan paruh baya berdiri di hadapan Caprio, parkir di tempat terlarang. Ketika ditanya alasannya, suaranya pecah, ia tak sanggup mengurus surat karena baru saja kehilangan anak remajanya akibat kanker.

Suasana ruang sidang hening, bahkan kamera terdiam. Caprio menunduk, suara lirih:
“Tidak ada denda yang bisa menandingi rasa kehilangan seorang ibu.”

Lalu dia mengetuk palu dan berkata, “Kasus ditutup. Pulanglah, dan rawatlah dirimu.”

Wanita itu menutup wajahnya, air mata jatuh. Ruang sidang ikut larut dalam keheningan haru. Momen itu viral, bukan sekadar viralitas, tetapi pengingat bahwa hakim pun manusia yang bisa merawat luka orang lain.

downloadgram.org 530410039 1344717890346710 2913013496136936447 n

Filosofi Keadilan Berempati
Baginya, hukum bukan pedang, melainkan pelita. Ia percaya bahwa akal sehat dan belas kasih mesti lebih dulu berbicara sebelum pasal-pasal dipidahkan, apabila hukum menjatuhkan seseorang yang sedang rapuh, keadilan sebenarnya gagal.

Seperti yang ia katakan sendiri, “Jika saya harus memutus hanya berdasarkan definisi hukum yang kaku, mungkin selama tiga puluh delapan tahun bertugas saya sudah menjatuhkan hukuman yang jauh lebih keras. Namun, filosofi hukum dan pribadi saya sederhana: perlakukan setiap orang dengan kebaikan, perhatian, dan martabat.”

Dan tentang pengalaman orang-orang kecil di ruang sidang, Caprio mengingatkan, “Ruang sidang adalah pengalaman yang sangat menakutkan bagi banyak orang… Saya ada di sana untuk menegakkan keadilan, dan saya melakukannya dengan pemahaman, belas kasih, dan rasa adil.”

Dua kutipan ini menjadi warisan berharga: keadilan sejati bukanlah sekadar menjatuhkan vonis, tetapi merawat martabat manusia.

Warisan yang Menyala
Lewat tayangan Caught in Providence, Caprio membawa keadilan di ruang sidang ke televisi dan layar internet. Ribuan kasus diputus dengan pendekatan manusiawi yang membuatnya dikenal sebagai “hakim paling baik di dunia”, bukan karena kelemahan, melainkan karena ketegasan berpadu belas kasih.

Di luar pengadilan, ia mendirikan beasiswa untuk kaum muda, menerima doktor kehormatan, dan ruang persidangan dinamai ulang sebagai “The Chief Judge Frank Caprio Courtroom.” Saat penyakit kanker pankreas menyerangnya, ia dengan sederhana meminta, “Remember me in your prayers.”

Pada 20 Agustus 2025, ia mengembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Rhode Island menurunkan bendera separuh tiang, mengenang salah satu harta nasionalnya.

Refleksi untuk Indonesia
Indonesia, seperti banyak negara lain, membutuhkan lebih dari sekadar hukum yang keras. Lembaga peradilan sering dibayangi politik, ekonomi, atau kepentingan. Frank Caprio mengingatkan bahwa keadilan juga membutuhkan: martabat, empati, dan peluang kedua.

Kedua kutipan Caprio tadi bisa menjadi pegangan moral untuk hakim-hakim di sini, yakni menegakkan hukum dengan kebaikan, mengingat bahwa di balik setiap pasal ada manusia dengan cerita.

Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip itu, sistem hukum bukan hanya dipandang adil, tetapi juga manusiawi, memberikan harapan, meringankan beban, dan menyembuhkan luka di hati masyarakat yang lelah.

Foto: Dok. Istimewa

Bagikan