
BicaraPlus – Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan mayoritas Muslim Syiah terbesar di dunia. Kondisi ini membuat negara tersebut memiliki posisi yang cukup unik di antara negara-negara Muslim lainnya, yang sebagian besar didominasi oleh aliran Sunni.
Saat ini terdapat sekitar 2,1 miliar umat Islam di seluruh dunia. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 25 persen populasi global. Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen, yang memiliki sekitar 2,65 miliar penganut.
Seperti banyak agama besar lainnya, Islam memiliki beberapa cabang atau aliran. Dua aliran terbesar adalah Sunni dan Syiah.
Mayoritas umat Islam di dunia merupakan penganut Sunni. Diperkirakan sekitar 87 hingga 90 persen Muslim berada dalam kelompok ini. Sementara itu, sekitar 10 hingga 13 persen lainnya merupakan penganut Syiah.
Perbedaan antara dua aliran ini berakar dari perdebatan mengenai siapa yang seharusnya memimpin komunitas Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632.
Iran sering disebut sebagai kasus unik di dunia Islam karena mayoritas besar penduduknya menganut Islam Syiah.
Dari sekitar 92 juta penduduk Iran, diperkirakan 90 hingga 95 persen merupakan penganut Syiah. Sementara itu, di banyak negara Muslim lainnya, Sunni menjadi kelompok mayoritas.
Di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara sendiri terdapat sekitar 20 hingga 23 persen dari total populasi Muslim dunia. Sebagian besar dari mereka adalah penganut Sunni.
Hal ini membuat Iran menjadi salah satu negara besar di kawasan tersebut yang didominasi oleh Muslim Syiah.
Perbedaan Sunni dan Syiah dalam Politik
Perbedaan antara Sunni dan Syiah sering kali dibahas dalam konteks politik di Timur Tengah. Meski tidak selalu menjadi penyebab konflik, perbedaan ini dalam beberapa kasus ikut memengaruhi hubungan antarnegara.
Salah satu contohnya adalah perang antara Iran dan Irak yang berlangsung dari tahun 1980 hingga 1988.
Perang tersebut dimulai ketika Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, melancarkan serangan terhadap Iran. Salah satu kekhawatiran pemerintah Irak saat itu adalah kemungkinan pengaruh Iran terhadap komunitas Syiah di negaranya.
Irak sendiri memiliki populasi Syiah yang cukup besar. Saat ini sekitar 55 persen dari total populasi Irak yang berjumlah sekitar 46 juta orang merupakan penganut Syiah, sementara sekitar 40 persen lainnya adalah Sunni.
Negara lain di kawasan Timur Tengah yang memiliki komunitas Syiah cukup besar adalah Lebanon.
Sekitar 31 persen dari total penduduk Lebanon yang berjumlah sekitar 5,8 juta orang merupakan penganut Syiah. Komunitas ini memiliki pengaruh politik yang signifikan di negara tersebut.
Salah satu organisasi yang lahir dari komunitas ini adalah Hezbollah, kelompok politik dan militer yang didirikan pada 1982 dan banyak dipengaruhi oleh Iranian Revolution.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa tidak semua konflik di dunia Islam berkaitan dengan perbedaan antara Sunni dan Syiah. Banyak faktor lain seperti politik, ekonomi, dan sejarah yang juga berperan.
Persamaan Sunni dan Syiah
Terlepas dari perbedaan tersebut, Sunni dan Syiah memiliki banyak kesamaan dalam ajaran Islam.
Islam termasuk dalam kelompok agama Ibrahimik, yaitu agama yang memiliki akar sejarah yang sama dengan Yudaisme dan Kristen. Umat Islam percaya kepada satu Tuhan dan meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan terakhir Tuhan.
Baik Sunni maupun Syiah juga menjalankan lima rukun Islam. Rukun ini merupakan kewajiban dasar bagi setiap Muslim.
Lima rukun tersebut meliputi mengucapkan syahadat sebagai pernyataan iman, menjalankan salat lima waktu setiap hari, memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, berpuasa selama bulan Ramadan, serta menunaikan ibadah haji ke Mekkah setidaknya sekali seumur hidup jika mampu.
Selama bulan Ramadan, umat Muslim berpuasa dari subuh hingga matahari terbenam dan biasanya meningkatkan aktivitas ibadah serta kegiatan keagamaan lainnya.
Awal Mula Perpecahan Sunni dan Syiah
Perpecahan antara Sunni dan Syiah bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632.
Pada saat itu, sebagian umat Muslim mendukung pemilihan Abu Bakr, sahabat dekat Nabi Muhammad, sebagai khalifah atau pemimpin komunitas Muslim.
Pandangan ini kemudian berkembang menjadi dasar bagi tradisi Islam Sunni.
Di sisi lain, kelompok lain berpendapat bahwa Ali ibn Abi Talib, yang merupakan menantu Nabi Muhammad, adalah penerus yang paling sah untuk memimpin umat Muslim.
Pendukung Ali percaya bahwa kepemimpinan seharusnya berada di tangan keluarga Nabi. Dari pandangan inilah muncul istilah Syiah, yang secara harfiah berarti “faksi Ali”.
Seiring waktu, perbedaan awal mengenai kepemimpinan tersebut berkembang menjadi tradisi keagamaan, hukum, dan praktik ibadah yang berbeda di antara kedua kelompok.
Dalam tradisi Sunni, tidak ada satu pemimpin agama yang memiliki otoritas mutlak atas seluruh komunitas Muslim.
Sementara itu, dalam banyak komunitas Syiah, imam yang dianggap sebagai penerus kepemimpinan Ali memiliki peran penting dalam membimbing umat.
Meski memiliki sejumlah perbedaan, baik Sunni maupun Syiah tetap berbagi banyak kesamaan dalam keyakinan dan praktik keagamaan.
Dalam konteks dunia Islam yang lebih luas, Iran tetap menonjol karena ukuran populasi Syiahnya yang besar serta pengaruhnya dalam kehidupan sosial dan politik di kawasan Timur Tengah.





