Menbud Fadli Zon Kunjungi Gedung Sarekat Islam Semarang, Dorong Revitalisasi Cagar Budaya

kemenbud 1766154916158

BicaraPlus – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambangi Gedung Sarekat Islam (SI) di Kota Semarang, beberapa waktu lalu. Bangunan bersejarah itu merupakan salah satu tapak penting perjalanan bangsa dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Kota Semarang.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi gedung sekaligus meninjau nilai historisnya. Menurut Fadli, Gedung Sarekat Islam bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi hidup perjalanan panjang pergerakan nasional Indonesia.

“Gedung ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Ia menjadi saksi perjalanan penting bangsa, sejak masa pergerakan nasional hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tapak sejarahnya masih berada di tempat ini dan format bangunannya pada dasarnya masih sama,” ujar Fadli.

Penetapan Gedung Sarekat Islam sebagai cagar budaya kota dinilai menjadi pijakan penting untuk memperkuat upaya pelestarian. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) pun berkomitmen mendorong langkah lanjutan, mulai dari perbaikan hingga pengelolaan gedung secara berkelanjutan.

Ke depan, Kemenbud akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang, pengurus yayasan, serta komunitas budaya setempat. Sinergi ini ditujukan untuk membahas rencana revitalisasi sekaligus pengembangan pemanfaatan gedung agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami akan berkoordinasi dengan Pemkot Semarang, pengurus yayasan, dan komunitas yang ada untuk membahas bagaimana perbaikan dan revitalisasi gedung ini dilakukan, sekaligus pengembangan pemanfaatannya,” kata Fadli.

Ia berharap Gedung Sarekat Islam dapat dikembangkan menjadi ruang budaya sekaligus ruang belajar yang terbuka bagi publik. Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan kebudayaan dan edukasi, mulai dari seminar, diskusi, dialog, kajian, hingga pengajian. Aktivitas literasi sejarah dan sastra, seperti pembacaan puisi serta pameran foto-foto sejarah, juga menjadi bagian dari rencana tersebut.

“Gedung ini diharapkan memiliki ruang edukasi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang bermanfaat, sehingga berfungsi sebagai ruang serbaguna berbasis budaya,” ujarnya.

Terkait revitalisasi fisik, Kemenbud menargetkan program tersebut mulai didorong pada 2026. Revitalisasi dilakukan dengan tetap menjaga karakter dan keaslian bangunan sebagai cagar budaya.

Dalam kunjungan itu, Fadli meninjau sejumlah bagian gedung sekaligus berdialog dengan pengurus Sarekat Islam. Diskusi mencakup sejarah gedung, perawatan bangunan, hingga perannya sebagai aset budaya strategis untuk edukasi dan pelestarian sejarah bangsa.

Menurut Fadli, tingkat keaslian bangunan masih terjaga dengan baik. Struktur kayu dinilai masih sesuai dengan dokumentasi foto era 1920-an. Adapun perubahan yang terjadi umumnya terbatas pada aspek pewarnaan dan lapisan pelindung.

“Secara keseluruhan, tingkat keaslian bangunan ini masih sekitar 70 sampai 80 persen. Itu sudah lebih dari cukup. Yang terpenting, tapak sejarahnya tetap terjaga, sementara penyesuaian kecil dilakukan untuk kebutuhan masa kini,” tutur Fadli.

Tak hanya itu, Kemenbud juga membuka peluang peningkatan status Gedung Sarekat Islam menjadi cagar budaya tingkat provinsi, bahkan nasional. Peningkatan status tersebut dinilai dapat memperkuat dukungan kebijakan sekaligus mempermudah akses pendanaan untuk pelestarian.

“Ke depan akan kita lihat kemungkinan untuk ditingkatkan menjadi cagar budaya tingkat provinsi atau nasional, yang tentu akan mempermudah dukungan anggaran untuk perbaikannya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, gedung seluas sekitar 1.000 meter persegi ini merupakan bangunan asli yang sejak awal digunakan oleh Sarekat Islam. Jejak sejarahnya masih dapat ditemukan hingga kini. Dalam berbagai periode, gedung ini menjadi saksi beragam peristiwa penting, mulai dari masa pergerakan nasional hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk Perang Lima Hari di Semarang.

Gedung Sarekat Islam juga tercatat pernah menjadi ruang pertemuan berbagai tokoh bangsa dari berbagai daerah. Jauh sebelum Indonesia merdeka, gedung ini menjadi tempat diskusi dan dialog mengenai isu-isu kebangsaan.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola, dan komunitas budaya, Kemenbud berharap Gedung Sarekat Islam dapat terus terjaga keasliannya sekaligus dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai ruang edukasi, ruang dialog, dan ruang kebudayaan yang memperkuat ingatan kolektif masyarakat.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Asisten Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang Suwarto, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Manggar Sari Ayuati, serta pengurus Yayasan Bani Muslimin Indonesia.

Bagikan