Masih Mau Kuliah Kedokteran atau Hukum? Mantan Bos Google: Hati-hati Buang Waktu!

IMG 20260216 WA00161

Bayangkan Anda menghabiskan waktu hampir satu dekade untuk sekolah, begadang demi hafalan tebal, lalu saat lulus, semua ilmumu sudah ‘basi’ karena digantikan kecerdasan buatan (AI).

Itulah peringatan keras dari Jad Tarifi, sosok di balik tim AI generatif pertama di Google. Pria lulusan PhD bidang AI ini menyebut gelar sarjana hukum dan kedokteran berisiko jadi investasi yang sia-sia di tengah gempuran teknologi yang lari kencang.

Menurut Tarifi, masalah utama pendidikan tradisional adalah durasinya yang terlalu lama. Mahasiswa kedokteran atau hukum seringkali butuh waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar terjun ke lapangan.

“AI sendiri akan hilang (berevolusi) saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu,” ujar Tarifi kepada Business Insider, dikutip Minggu (15/2).

Ia menilai kurikulum saat ini masih terlalu mendewakan hafalan. Padahal, saat para mahasiswa ini lulus, AI sudah jauh melampaui standar pengetahuan yang mereka pelajari di tahun pertama kuliah. Alhasil, lulusan baru berisiko masuk ke dunia kerja dengan bekal yang sudah outdated.

Bukan Cuma S1, Gelar PhD Pun Terancam

Kritik Tarifi tidak berhenti pada gelar profesional saja. Bahkan jalur akademik setingkat PhD pun kena sentil. Ia berpendapat bahwa nilai tambah dari sebuah gelar akademik kini semakin menipis karena inovasi di Silicon Valley bergerak jauh lebih cepat daripada proses penyusunan disertasi.

Lalu, apa yang harus dilakukan generasi muda agar tetap relevan?

“Keberhasilan di masa depan tidak akan datang dari mengumpulkan kredensial (gelar), melainkan dari mengembangkan perspektif yang unik, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat,” tegas Tarifi.

Fokus pada ‘Sisi Manusia’

Pesan utama Tarifi sebenarnya bukan melarang orang belajar, melainkan menggeser fokus. Di era di mana data bisa diolah dalam hitungan detik oleh mesin, keterampilan interpersonal menjadi “mata uang” baru yang mahal harganya.

Tarifi mendorong anak muda untuk mengasah kemampuan yang tak bisa dicoding oleh AI, seperti empati yang mendalam, kemampuan komunikasi antarmanusia, dan ecerdasan emosional.

Pernyataan ini menambah panjang daftar perdebatan di Silicon Valley soal relevansi universitas. Banyak pemimpin teknologi mulai mendesak institusi pendidikan untuk segera merombak kurikulum agar tak jadi “pabrik ijazah” semata yang melahirkan lulusan yang kebingungan menghadapi masa depan.

Bagikan