Mantan Ibu Negara Korea Selatan Kim Keon Hee Diduga Terima Suap Proyek Renovasi Istana

1769594589250 chup man hinh

BicaraPlus – Mantan Ibu Negara Korea Selatan, Kim Keon Hee, diduga menerima suap terkait proyek renovasi kediaman presiden pada 2022.

Pada 6 April, tim investigasi khusus yang dipimpin Kwon Chang-young mengungkap adanya bukti tidak langsung bahwa Kim menerima barang-barang mewah secara ilegal. Barang tersebut diduga berkaitan dengan relokasi dan renovasi kediaman presiden.

Tim investigasi ini dibentuk pada Februari untuk menangani sejumlah kasus yang belum tuntas dari penyelidikan sebelumnya. Salah satu fokusnya adalah dugaan bahwa Kim menggunakan pengaruhnya untuk menguntungkan perusahaan desain interior bernama 21 Gram.

Perusahaan tersebut diketahui tidak memiliki izin lengkap, namun tetap memenangkan kontrak renovasi kediaman presiden pada Mei 2022. Kontrak itu menggantikan perusahaan lain yang sebelumnya telah dipilih, tak lama setelah Yoon Suk Yeol terpilih sebagai presiden.

Dalam konferensi pers, pihak jaksa menyatakan telah menemukan indikasi kuat bahwa Kim menerima barang bernilai tinggi yang berkaitan dengan proyek tersebut. Saat ini, penggeledahan dan penyitaan tengah dilakukan di kantor pusat perusahaan serta kediaman eksekutifnya.

Namun, hingga kini penyidik belum mengungkap identitas pihak pemberi suap maupun rincian barang yang disita.

Kasus ini semakin memicu kontroversi karena 21 Gram diketahui memiliki hubungan dengan aktivitas bisnis Kim. Perusahaan tersebut pernah mendesain kantor untuk perusahaan konten budaya milik Kim, serta mensponsori sejumlah pamerannya.

Renovasi kediaman presiden sendiri merupakan bagian dari rencana relokasi kantor kepresidenan, salah satu janji kampanye Yoon.

Saat ini, baik Yoon maupun Kim sama-sama ditahan. Yoon diadili terkait keputusannya memberlakukan darurat militer pada 2024, sementara Kim menghadapi sejumlah tuduhan korupsi.

Selain kasus renovasi, Kim juga didakwa menerima barang mewah senilai 80 juta won (sekitar Rp800 jutaan) dari seorang pejabat Gereja Unifikasi, yang diduga sebagai imbalan atas kemudahan bisnis.

Bagikan