
Bicaraplus – Pengangkatan M. Awaludin sebagai Direktur Utama Jasa Raharja menandai babak baru dalam perjalanan lembaga yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penjaga jaring pengaman terakhir bagi korban kecelakaan lalu lintas. Lebih dari sekadar rotasi jabatan, keputusan ini mencerminkan arah baru negara dalam memaknai keselamatan publik bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai misi kemanusiaan.
Sosok M. Awaludin lekat dengan transformasi besar di sektor aviasi nasional. Selama lebih dari tujuh tahun memimpin PT Angkasa Pura II, ia membawa perubahan fundamental pada wajah bandara Indonesia, terutama Bandara Soekarno-Hatta. Di bawah kepemimpinannya, bandara tersibuk di Tanah Air itu bertransformasi menjadi bandara berkelas dunia. Pada 2017, Soekarno-Hatta dinobatkan sebagai The World’s Most Improved Airport versi Skytrax, sebuah pengakuan internasional atas lonjakan kualitas layanan dan infrastruktur. Pada tahun-tahun berikutnya, bandara ini juga masuk jajaran bandara dengan peningkatan layanan terbaik di Asia, termasuk dalam aspek pelayanan staf dan kebersihan.
Prestasi tersebut semakin diuji saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika industri penerbangan global terpuruk, Awaludin memimpin Angkasa Pura II melewati fase krisis dengan pendekatan berbasis data, efisiensi operasional, dan adaptasi protokol kesehatan berstandar internasional. Bandara Soekarno-Hatta bahkan meraih berbagai pengakuan terkait manajemen kebersihan dan keselamatan penumpang, sebuah capaian yang menunjukkan konsistensi kepemimpinan di tengah situasi paling sulit.
Pengalaman inilah yang kini dibawa Awaludin ke Jasa Raharja lembaga yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan risiko, duka, dan harapan masyarakat. Jika di bandara keselamatan adalah prinsip utama sebelum pesawat mengudara, maka di Jasa Raharja keselamatan menjadi isu paling mendasar di ruang publik bernama jalan raya. Jalan yang dilalui jutaan orang setiap hari, dengan risiko yang sering kali luput dari perhatian hingga tragedi terjadi.
Selama ini, Jasa Raharja dikenal publik melalui kecepatan santunan yang diberikan kepada korban kecelakaan. Namun, di tangan pemimpin dengan latar transformasi sistem, peran itu berpotensi meluas. Dari sekadar hadir setelah kecelakaan terjadi, menjadi institusi yang aktif mendorong pencegahan. Data kecelakaan, pola risiko, hingga kolaborasi lintas lembaga dapat menjadi fondasi baru untuk menekan angka fatalitas, bukan hanya menghitung dampaknya.
Kepemimpinan Awaludin kerap digambarkan tenang, sistematis, dan berorientasi pada dampak jangka panjang. Ia bukan figur yang mencari sorotan, melainkan hasil. Di Jasa Raharja, hasil itu tidak selalu terlihat di laporan keuangan atau statistik semata, tetapi pada keluarga yang terbantu, korban yang bisa melanjutkan hidup, dan kehadiran negara yang terasa nyata di saat paling genting.
Pengangkatan ini sekaligus mengirim pesan penting: negara ingin Jasa Raharja naik kelas sebagai institusi perlindungan sosial modern adaptif, kolaboratif, dan berbasis data. Tantangannya besar, tetapi rekam jejak Awaludin menunjukkan bahwa ia terbiasa bekerja di ruang dengan risiko tinggi dan ekspektasi publik yang besar.
Kini, dari bandara kelas dunia ke jalan raya yang menjadi denyut kehidupan masyarakat, M. Awaludin memasuki fase kepemimpinan yang mungkin paling manusiawi dalam kariernya. Menjaga nyawa, bukan sekadar angka. Sebuah tanggung jawab besar, sekaligus harapan baru bagi keselamatan publik Indonesia.




