
BicaraPlus – Senator dari Amerika Serikat Lindsey Graham memprediksi runtuhnya rezim di Iran akan membawa keuntungan ekonomi besar bagi negaranya sekaligus memicu perubahan tatanan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam wawancara yang disiarkan pada 8 Maret, Graham mengungkapkan, serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran kemungkinan akan terus meningkat dalam dua minggu ke depan.
Ia bahkan memperingatkan bahwa militer AS akan meningkatkan serangan terhadap pasukan Iran.
“Kami akan menghancurkan mereka. Rezim ini berada di ambang kejatuhan,” kata Graham dalam wawancara televisi tersebut. Ia juga menyebut setelah konflik tersebut, tidak ada pihak yang berani mengancam AS di Selat Hormuz.
Faktor Minyak dalam Perhitungan Strategis
Graham yang dikenal sebagai pendukung kuat intervensi militer AS di luar negeri dan sekutu dekat Israel, menilai sumber daya minyak menjadi faktor penting dalam perhitungan strategis konflik tersebut.
Ia bahkan mengatakan jika rezim Iran jatuh, kawasan Timur Tengah akan memasuki “tatanan baru” yang juga menguntungkan secara ekonomi bagi AS.
Pernyataan Graham muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Iran Tuduh AS Ingin Kuasai Minyak
Menanggapi situasi tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuduh AS memiliki agenda untuk mengendalikan sumber daya energi Iran.
Menurutnya, rencana Washington untuk melemahkan atau memecah Iran bertujuan untuk merebut cadangan minyak negara tersebut.
Baghaei juga menilai langkah itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Iran.
Seruan kepada Negara Teluk
Dalam wawancara yang sama, Graham juga menyerukan negara-negara Teluk untuk ikut bergabung dalam kampanye militer melawan Iran.
Ia menyebut negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memiliki kemampuan militer yang cukup untuk terlibat dalam operasi tersebut.
Menurut Graham, kedua negara tersebut juga telah menerima dukungan persenjataan dari Amerika Serikat.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan di kawasan Timur Tengah turut memicu lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak global dilaporkan sempat melampaui US$100 per barel, yang meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.
Kenaikan harga energi ini diperkirakan memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat yang memiliki cadangan minyak besar serta produksi energi domestik yang kuat.





