
BicaraPlus – Penetapan awal Syawal 1447 Hijriah kembali menjadi sorotan publik. Hal ini menyusul adanya potensi perbedaan waktu Hari Raya Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah.
Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mengacu pada metode hisab atau perhitungan astronomi.
Penjelasan ini disampaikan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Oman Fathurohman, dalam podcast Jejak Ulama Tarjih di Tarjih Channel, Selasa (17/3/2026). Menurut Oman, metode hisab memberikan kepastian penentuan waktu ibadah jauh hari sebelumnya, sehingga umat Islam dapat mempersiapkan diri lebih awal. “Dengan KHGT, 1 Syawal itu jelas jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026,” ujarnya.
Pemerintah Gunakan Kriteria Visibilitas Hilal
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode rukyat atau pengamatan hilal yang dikombinasikan dengan kriteria astronomi MABIMS. Dalam kriteria ini, hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan data astronomi, posisi hilal pada malam 29 Ramadan atau Kamis (19/3/2026) di wilayah Indonesia diperkirakan belum memenuhi kriteria tersebut. Kondisi ini membuka peluang pemerintah menetapkan 1 Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, sehingga potensi perbedaan waktu Lebaran kembali terjadi.
Oman menilai perbedaan penetapan awal bulan Hijriah merupakan konsekuensi dari perbedaan pendekatan metodologis. Muhammadiyah memilih hisab karena dianggap lebih pasti dan konsisten, sedangkan rukyat dinilai lebih situasional karena bergantung pada kondisi pengamatan di lapangan.
Ia juga menekankan bahwa dalam sidang isbat, laporan terlihatnya hilal tidak otomatis diterima apabila tidak sesuai dengan kriteria astronomi yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, KHGT disebut sebagai upaya menjawab kebutuhan umat Islam secara global, tidak hanya berbasis wilayah lokal seperti pendekatan sebelumnya.





