
BicaraPlus – Kekayaan kuliner Nusantara kembali diangkat melalui program Kuliner Indonesia Kaya 2026, sebuah webseries yang menelusuri sejarah, tradisi, dan peradaban di balik berbagai hidangan khas Indonesia. Dalam episode terbaru, Indonesia Kaya mengajak penonton menjelajahi warisan rasa dari Ternate, Palembang, dan Banten, tiga daerah yang memiliki peran penting dalam perjalanan budaya kuliner di Indonesia.
Program yang tayang di kanal YouTube IndonesiaKaya ini tidak hanya menampilkan kelezatan makanan, tetapi juga menggali cerita tentang jalur perdagangan, akulturasi budaya, hingga tradisi masyarakat yang membentuk identitas kuliner Nusantara selama berabad-abad. Program Director Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa Kuliner Indonesia Kaya hadir sebagai dokumentasi yang merekam kekayaan gastronomi Indonesia sekaligus nilai sejarah yang menyertainya.
“Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kami ingin menghadirkan dokumentasi yang tidak hanya menampilkan kelezatan sebuah hidangan, tetapi juga cerita di baliknya. Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Episode pertama yang tayang pada 26 Februari 2026 membawa penonton ke Ternate, salah satu wilayah penting dalam sejarah Jalur Rempah dunia. Di daerah ini, kuliner berkembang dari hubungan erat masyarakat dengan alam.

Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak yang diwariskan turun-temurun tanpa menggunakan alat dapur modern. Dalam tradisi ini, bambu dimanfaatkan sebagai wadah alami untuk memasak berbagai bahan seperti daging, ayam, sayuran, hingga umbi-umbian.
Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Kris Syamsudin, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari kebutuhan masyarakat Ternate untuk bertahan hidup ketika berada di hutan.“Rimo-rimo adalah tradisi memasak masyarakat Ternate yang lahir dari situasi survival. Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak,” jelasnya.
Selain itu, episode ini juga menampilkan Gohu Ikan, hidangan khas Ternate yang menggunakan potongan ikan tuna atau cakalang mentah yang dicampur dengan garam, perasan lemon cui, dan daun kemangi. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir memanfaatkan hasil laut dengan cara sederhana namun tetap kaya rasa.
Perjalanan kuliner kemudian berlanjut ke Palembang, kota yang dikenal sebagai salah satu peradaban tertua di Indonesia dengan Sungai Musi sebagai pusat kehidupan masyarakatnya. Dalam episode yang tayang pada 5 Maret 2026, penonton diajak mengenal Pindang Ikan, sajian khas dengan cita rasa asam pedas yang segar.
Hidangan ini biasanya menggunakan ikan patin, gabus, atau baung yang berasal dari sungai, mencerminkan kedekatan masyarakat Palembang dengan alam dan sumber daya air yang melimpah.
Kuliner Palembang juga dikenal melalui sajian tradisional seperti Kue Delapan Jam, yang dimasak selama delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Selain itu, terdapat pula Kue Maksuba, kue berlapis yang menjadi bagian penting dalam tradisi pernikahan maupun perayaan besar seperti Lebaran.
Proses pembuatan Maksuba yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran menjadikannya simbol kematangan serta nilai budaya yang diwariskan dalam masyarakat Palembang. Kue ini juga kerap diberikan kepada orang tua oleh pasangan yang baru menikah sebagai bentuk penghormatan dan bakti.
Perjalanan kuliner Nusantara dalam webseries ini juga menyoroti Banten, wilayah yang memiliki sejarah panjang sejak masa Kesultanan Banten. Episode yang akan tayang pada 12 Maret 2026 mengangkat dua hidangan khas yang sarat sejarah, yaitu Sate Bandeng dan Rabeg.
Sate Bandeng dikenal sebagai hidangan yang konon menjadi favorit Sultan Maulana Hasanuddin. Sajian ini tercipta dari kreativitas juru masak keraton yang mengolah bandeng tanpa duri agar lebih mudah dinikmati oleh tamu kerajaan.
Sementara itu, Rabeg merupakan olahan daging kambing atau sapi yang dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Berdasarkan cerita turun-temurun, hidangan ini terinspirasi dari pengalaman sang Sultan ketika menunaikan ibadah haji dan singgah di Kota Rabig di tepi Laut Merah, sebelum akhirnya diadaptasi menjadi kuliner khas Banten.
Sejak pertama kali digagas pada 2017, Kuliner Indonesia Kaya terus berupaya mendokumentasikan ragam kuliner Nusantara melalui format audio visual yang ringkas namun informatif.
“Dengan durasi yang padat di setiap episodenya, kami berharap tayangan ini dapat menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk mengenal dan menghargai warisan gastronomi Indonesia. Karena di balik setiap rasa tersimpan identitas, sejarah, dan cerita panjang yang membentuk karakter sebuah daerah sekaligus bangsa,” tutup Renitasari Adrian.





