
BicaraPlus – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata di tengah ketidakpastian global.
Dalam webinar “Tourism Under Fire” yang digelar Ikatan Alumni NHI Bandung pada 16 Maret, ia menjelaskan bahwa situasi geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, mulai memengaruhi konektivitas penerbangan internasional.
Menurutnya, penyesuaian rute penerbangan jarak jauh serta kenaikan biaya perjalanan akibat lonjakan harga bahan bakar menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
Selama ini, Timur Tengah merupakan salah satu hub penting bagi wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia. Ketika kawasan tersebut terganggu, arus wisatawan ke Indonesia pun ikut terdampak.
Pemerintah memperkirakan jumlah wisatawan mancanegara yang berkurang bisa mencapai 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Jika kondisi ini berlanjut, potensi kehilangan devisa diperkirakan mencapai Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar setiap harinya.
Padahal, sektor pariwisata Indonesia sedang berada dalam tren positif. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan total devisa mencapai 18,27 miliar dolar AS.
Meski kontribusi wisatawan dari Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya sekitar seperlima dari total kunjungan, nilai belanja mereka jauh lebih tinggi dan menyumbang lebih dari sepertiga devisa pariwisata.
Untuk menghadapi potensi tekanan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi.
Salah satunya adalah mengalihkan fokus ke pasar wisatawan jarak dekat dan menengah seperti Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India, yang dinilai lebih stabil dari sisi konektivitas.
Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia, guna menjaga minat wisatawan dari Eropa.
Promosi digital berbasis data juga diperkuat agar kampanye pariwisata lebih tepat sasaran dan efektif menjangkau calon wisatawan potensial.
Di dalam negeri, pemerintah mendorong peningkatan wisatawan nusantara, terutama menjelang momentum libur Idulfitri yang biasanya diiringi lonjakan mobilitas masyarakat.
Selain itu, penyelenggaraan berbagai event pariwisata di wilayah perbatasan juga didorong untuk menjaga aktivitas ekonomi daerah. Kawasan seperti Kepulauan Riau dinilai memiliki potensi besar karena dekat dengan pasar wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura.
Pemerintah juga membuka peluang kebijakan tambahan, seperti peningkatan kapasitas penerbangan, penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau, hingga pemberian bebas visa bagi pasar potensial.
Di tengah tantangan tersebut, ada pula kabar positif dari pasar Asia Timur. Sejumlah maskapai dilaporkan akan menambah frekuensi penerbangan dan membuka rute baru ke Jakarta dan Bali mulai Mei 2026.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa sektor pariwisata Indonesia sebelumnya mencatat kinerja yang impresif.
Sepanjang 2025, sektor ini berkontribusi Rp945,7 triliun terhadap Produk Domestik Bruto atau sekitar 3,97 persen, serta menyerap hampir 26 juta tenaga kerja.
Namun, menurutnya, ketahanan sektor ini kini sedang diuji oleh krisis global yang memengaruhi konektivitas internasional.
Ia menekankan pentingnya reformasi dan strategi adaptif untuk menjaga daya saing pariwisata Indonesia, termasuk melalui penguatan pasar domestik, pengembangan konsep micro tourism, hingga menarik segmen wisatawan kelas atas dan digital nomad.
Menurut Airlangga, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pariwisata Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah optimistis sektor pariwisata tetap mampu bertahan dan terus tumbuh, asalkan strategi yang diterapkan responsif dan adaptif terhadap perubahan situasi dunia.





