
BicaraPlus – Korea Utara kembali meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea dengan meluncurkan sekitar 10 rudal balistik ke arah Laut Jepang (Laut Timur), belum lama ini.
Peluncuran tersebut terjadi ketika Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) tengah menggelar latihan militer gabungan tahunan.
Menurut Joint Chiefs of Staff (JCS), rudal-rudal itu diluncurkan sekitar pukul 13.20 waktu setempat dari wilayah Sunan, dekat ibu kota Pyongyang.
Militer Korea Selatan memperkirakan rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 350 kilometer.
Peluncuran ini menjadi uji coba rudal balistik ketiga yang dilakukan Korea Utara sepanjang tahun ini.
JCS menyebut militer Korea Selatan saat ini bekerja sama dengan militer AS untuk menganalisis spesifikasi teknis rudal tersebut secara lebih rinci.
Militer Korea Selatan juga meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat pengawasan guna mengantisipasi kemungkinan peluncuran tambahan.
Informasi mengenai peluncuran tersebut turut dibagikan kepada pemerintah Japan.
Peluncuran rudal itu terjadi di tengah latihan militer gabungan Korea Selatan dan AS yang dikenal sebagai Freedom Shield.
Latihan tahunan tersebut dimulai pada 10 Maret dan dijadwalkan berlangsung selama 11 hari.
Selama ini, Korea Utara kerap mengecam latihan militer gabungan antara Seoul dan Washington.
Pyongyang menilai latihan tersebut sebagai simulasi invasi terhadap wilayahnya.
Sebaliknya, Korea Selatan dan AS menegaskan latihan tersebut bersifat defensif dan bertujuan meningkatkan kesiapan militer.
Peringatan dari Kim Yo Jong
Sebelumnya, pejabat tinggi Korea Utara telah memperingatkan dampak dari latihan tersebut.
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengutuk latihan Freedom Shield.
Ia memperingatkan, latihan militer itu dapat memicu “konsekuensi yang tak terbayangkan dan mengerikan”.
Menanggapi peluncuran tersebut, pemerintah Korea Selatan segera mengadakan rapat darurat keamanan nasional.
Pertemuan itu dihadiri pejabat dari Kementerian Pertahanan serta perwakilan militer dari Joint Chiefs of Staff.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Korea Selatan mengecam peluncuran rudal itu sebagai tindakan provokatif yang melanggar resolusi United Nations Security Council.
Pemerintah juga menyampaikan laporan perkembangan situasi kepada Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung.
Dalam rapat tersebut, para pejabat meninjau dampak peluncuran rudal terhadap keamanan nasional serta membahas langkah-langkah respons yang diperlukan, termasuk kesiapan menghadapi kemungkinan situasi darurat.





