
BicaraPlus – Sebuah ironi sedang ditulis di Korea Selatan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri itu, bukan hanya seorang mantan presiden yang mendekam di penjara, tetapi juga istrinya. Kim Keon Hee, mantan ibu negara yang pernah memikat publik dengan gaya hidup glamor dan pesonanya yang berbeda dari pendahulu, kini harus menjalani hari-harinya di balik sel.
Pada Selasa (12/8), pengadilan Seoul mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap Kim atas tuduhan manipulasi saham, penyuapan, serta campur tangan dalam proses politik. Meski Kim membantah semua tuduhan, hakim menyebut ada risiko ia bisa menghilangkan barang bukti.
“Saya dengan tulus meminta maaf karena telah menimbulkan masalah meskipun saya bukan orang penting,” ujar Kim dengan suara bergetar di depan kamera wartawan.

Dari Istana ke Pengadilan
Kim adalah istri Yoon Suk Yeol, mantan presiden Korea Selatan yang dimakzulkan pada April lalu. Yoon sendiri kini menjalani hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah menyalahgunakan kekuasaan ketika mengumumkan darurat militer pada Desember 2024, tindakan yang memicu protes besar-besaran dan kekacauan di jalanan Seoul.
Kini, pasangan itu menjadi simbol jatuhnya kekuasaan politik Korea Selatan dalam skandal yang menyentuh level keluarga. Korea Selatan memang memiliki tradisi panjang presiden yang berakhir di penjara, tetapi kali ini sejarah baru tercipta: ibu negara pun ikut terseret.
Skandal Saham, Tas Mewah, dan 16 Tuduhan
Di pengadilan, jaksa mengurai panjang daftar tuduhan yang diarahkan kepada Kim. Yang paling menonjol adalah dugaan manipulasi saham Deutsche Motors, dealer resmi BMW, yang disebut menghasilkan keuntungan lebih dari 800 juta won (sekitar Rp9,3 miliar).
Selain itu, Kim juga dituduh menerima hadiah tas tangan mewah, terlibat dalam proses penentuan kandidat politik, hingga ikut campur dalam proyek infrastruktur besar seperti perubahan rute Jalan Tol Seoul–Yangpyeong.
Total, terdapat 16 tuduhan terpisah yang kini menjeratnya.

Gaya Hidup dan Kontroversi
Jauh sebelum badai politik ini, Kim sudah menjadi sosok yang membelah opini publik. Sebagai pengusaha seni melalui perusahaan Covana Contents, ia kerap tampil di ruang publik dengan citra berbeda dari ibu negara tradisional Korea.
Ia dikenal modis, terbuka, dan aktif di dunia seni, jauh dari bayangan “pendamping pendiam” yang melekat pada para pendahulunya. Namun, gaya ini juga sering menimbulkan kontroversi.
Menjelang pilpres 2021, media mengungkap bahwa ia diduga mencantumkan kredensial palsu dalam sejumlah lamaran pekerjaan. Kim akhirnya meminta maaf, menyebutnya sebagai “pernyataan berlebihan” di dalam resume.
Ketika akhirnya Yoon terpilih sebagai presiden, janji Kim untuk “hanya fokus pada perannya sebagai istri” tak bertahan lama. Aktivitasnya sebagai ibu negara terus jadi sorotan dari protokol diplomatik di pertemuan NATO Madrid hingga rekaman video dirinya menerima tas mewah di sebuah kantor di Seoul.
Skandal Keluarga, Politik, dan Publik
Kasus Kim bukan sekadar persoalan hukum pribadi. Skandal ini menjerat seluruh keluarga kepresidenan. Yoon yang jatuh karena keputusan kontroversialnya kini harus melihat istrinya menghadapi sidang panjang dengan sorotan media global.
Kalangan oposisi menuding pasangan ini sebagai contoh klasik “politik dinasti korup”, sementara pendukung Yoon menganggap kasus Kim terlalu dipolitisasi. Namun, bagi publik Korea Selatan yang sudah terbiasa dengan presiden-presiden yang tersandung kasus hukum, peristiwa ini tetap mengejutkan.
Bab Gelap Baru dalam Politik Korea
Korea Selatan kini memasuki bab baru: seorang mantan presiden dan ibu negara, keduanya mendekam di balik jeruji. Dari istana kepresidenan hingga ruang sidang, perjalanan Kim Keon Hee mencerminkan bagaimana glamor, ambisi, dan kekuasaan bisa berbalik arah dengan cepat.
Seorang mantan kolega di dunia seni pernah berkata, “Kim adalah sosok yang suka tampil, suka berada di pusat perhatian. Kini ia tetap di pusat perhatian, tapi dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.”
Bagi sebagian warga Korea Selatan, kasus ini adalah peringatan keras bahwa kekuasaan selalu datang bersama pertanggungjawaban.
Foto: Getty Images & Istimewa