Kerja Bikin Stres? Ini Rekomendasi WHO agar Tetap Sehat Mental di 2026

Polyworking 5

Bicaraplus – Di tengah ritme kerja yang semakin dinamis, kesehatan mental di tempat kerja menjadi isu yang tak bisa lagi diabaikan. Sebagai individu dewasa, hampir separuh dari 24 jam waktu kita dihabiskan untuk bekerja. Di Indonesia, rata-rata durasi kerja produktif berkisar 7–8 jam per hari selama lima hari dalam seminggu. Tak hanya bekerja, kita juga menghabiskan banyak waktu bersosialisasi dengan rekan kerja, menghadapi target, tekanan, dan dinamika organisasi.

Tak ada pekerjaan yang benar-benar ideal. Faktor seperti beban kerja, kepemimpinan, relasi dengan rekan kerja, sistem pengupahan, hingga budaya organisasi kerap menjadi pemicu stres. Benturan dalam hubungan sosial di tempat kerja pun hampir tak terhindarkan. Karena itu, kemampuan mengenali batas toleransi diri menjadi penting untuk menjaga keseimbangan mental.

World Health Organization (WHO) mencatat, lingkungan kerja yang buruk termasuk diskriminasi, ketidaksetaraan, beban kerja berlebih, minimnya kontrol terhadap pekerjaan, hingga ketidakpastian kerja dapat membahayakan kesehatan mental pekerja. Secara global, diperkirakan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan kerugian ekonomi mencapai US$1 triliun per tahun akibat penurunan produktivitas.

Agar tidak terjebak dalam kondisi tersebut, penting untuk mengenali tanda-tanda risiko stres kerja, antara lain yaitu beban kerja berlebihan, jam kerja panjang dan tidak fleksibel, minimnya dukungan atasan, budaya kerja negatif, ketidakjelasan peran, diskriminasi, hingga konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Untuk melindungi kesehatan mental di tempat kerja, WHO merekomendasikan beberapa langkah strategis. Di antaranya pelatihan kesehatan mental bagi pimpinan agar mampu mengenali dan merespons kondisi emosional karyawan, meningkatkan komunikasi terbuka, serta memahami dampak stres kerja. Selain itu, pekerja juga perlu dibekali literasi kesehatan mental untuk mengurangi stigma, serta mendapatkan intervensi yang membantu pengelolaan stres, termasuk dukungan psikososial dan aktivitas fisik berbasis rekreasi.

Di tingkat individu, beberapa langkah praktis bisa dilakukan saat stres mulai terasa, seperti mengambil cuti, membatasi interaksi dengan lingkungan yang tidak sehat, menjaga hubungan profesional secara proporsional, berani menyampaikan pendapat, dan tidak memaksakan diri pada hal-hal yang berada di luar kendali. Jika kondisi dirasa semakin berat, mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater adalah langkah bijak.

Dinamika kerja memang tak terhindarkan, tetapi menjaga kesehatan mental adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup.

Bagikan