Kemarau Lebih Awal, Laut Indonesia Justru Makin Subur

1773795743 23940976

BicaraPlus – Musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada April 2026 tak hanya berdampak pada daratan. Di laut, kondisi ini justru bisa membawa “berkah”.

Para peneliti menyebut awal kemarau akan memicu fenomena upwelling, yakni naiknya air laut dalam yang kaya nutrien ke permukaan.

Peneliti BRIN Widodo Pranowo menjelaskan, fenomena ini dipicu oleh Angin Timuran yang menguat saat kemarau.

Angin tersebut mendorong air permukaan ke laut lepas, lalu digantikan air dingin dari bawah yang kaya nutrisi.

“Air yang naik membawa ‘pupuk alami’ seperti nitrat dan fosfat,” ujar Widodo.

Saat bertemu sinar matahari, nutrisi ini memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton, dasar rantai makanan laut.

Laut Selatan Jawa Jadi ‘Hotspot’

Fenomena ini paling kuat terjadi di selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Dalam risetnya, Widodo menyebut kawasan ini memiliki sistem upwelling khas yang dikenal sebagai RATU (Java Coastal Upwelling).

Data dikumpulkan menggunakan teknologi Argo Float, robot penyelam yang bisa merekam kondisi laut hingga kedalaman 2.000 meter.

Hasilnya, wilayah ini menjadi habitat penting bagi berbagai ikan bernilai ekonomi tinggi.

Sejumlah ikan yang diperkirakan meningkat, antara lain tuna sirip biru selatan, tuna mata besar, dan cakalang. Tak hanya itu, ikan pelagis kecil seperti lemuru juga diprediksi melimpah, terutama di Selat Bali.

Puncak Terjadi Juli–Agustus

Menurut Widodo, pertumbuhan fitoplankton mulai terjadi pada April–Mei 2026.

Jumlahnya akan meningkat pada Juni dan mencapai puncak pada Juli–Agustus.

Jika fenomena El Niño terjadi, efeknya bisa semakin kuat dan meluas ke wilayah lain di Indonesia.

Bisa Jadi ‘Penopang Pangan’

Di tengah ancaman kekeringan akibat kemarau dan El Niño, sektor kelautan justru bisa menjadi penopang.

Produksi ikan berpotensi meningkat saat sumber pangan dari darat terganggu.

Karena itu, pemantauan kondisi laut dan atmosfer dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Bagikan