
BicaraPlus – Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum pembinaan diri secara menyeluruh. Dalam sejarah Islam, bulan suci ini menjadi waktu istimewa bagi Nabi Muhammad untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, serta membentuk karakter umatnya.
Kemuliaan Ramadan ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagai bulan diturunkannya wahyu pertama yang menjadi petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Tidak heran jika Rasulullah mengisi Ramadan dengan amalan-amalan yang lebih intens dibanding bulan lainnya.
Salah satu kebiasaan utama Rasulullah adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan, “Umatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” Anjuran ini menunjukkan keseimbangan dalam Islam: disiplin dalam ibadah, namun tetap memperhatikan kemaslahatan dan kesehatan.
Selain itu, Rasulullah juga mengurangi waktu tidur di malam hari untuk memperbanyak ibadah. Beliau memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan beristighfar terutama di waktu sahur. Al-Qur’an menggambarkan ciri orang bertakwa sebagai mereka yang sedikit tidur di malam hari dan memohon ampun di akhir malam (QS. Az-Zariyat: 17–18). Tradisi ini menjadi teladan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
Tidak hanya ibadah personal, Rasulullah juga menekankan pentingnya menjaga lisan dan emosi. Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari disebutkan bahwa puasa adalah perisai. Orang yang berpuasa dilarang berkata kotor atau terpancing pertengkaran. Jika diajak berselisih, cukup mengatakan, “Saya sedang berpuasa.” Pesan ini semakin relevan di era digital ketika ujaran emosional mudah tersebar melalui media sosial.
Ramadan juga identik dengan doa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi disebutkan bahwa doa orang yang berpuasa termasuk yang tidak tertolak. Momentum sahur, menjelang berbuka, hingga malam-malam terakhir Ramadan menjadi waktu mustajab yang dianjurkan untuk memperbanyak permohonan kepada Allah.
Aspek sosial pun tak luput dari perhatian Rasulullah. Beliau dikenal sebagai pribadi yang dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat saat Ramadan. Para sahabat menggambarkan kemurahan hati beliau seperti angin yang bertiup kencang—memberi tanpa henti. Sedekah di bulan suci bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk empati dan solidaritas sosial yang memperkuat ukhuwah.
Kebiasaan Rasulullah selama Ramadan menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ritual tahunan, melainkan proses transformasi diri. Ibadah diperkuat, akhlak diperhalus, dan kepedulian sosial ditingkatkan. Dengan meneladani sunnah-sunnah tersebut, umat Islam diharapkan tidak hanya meraih pahala berlipat ganda, tetapi juga keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih sabar, disiplin, dan dermawan.





