
BicaraPlus – Isu deforestasi dan pembalakan liar kembali mencuat tajam, dituding sebagai biang keladi di balik bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Publik pun dibuat heboh setelah video gelondongan kayu terseret arus banjir viral di media sosial.
Tak butuh waktu lama, instansi terkait langsung bergerak. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menemukan lima lokasi penebangan hutan yang disinyalir tidak sesuai aturan. Kelima titik ini diduga kuat menjadi pemicu utama bencana Sumatra.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengungkapkan bahwa analisis awal timnya menunjuk pada dua faktor, yaitu curah hujan ekstrem, dan yang lebih penting, indikasi kerusakan lingkungan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan Sibuluan.
Menurut Dwi, hilangnya tutupan hutan di lereng dan hulu DAS telah menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air. Konsekuensinya, hujan ekstrem dengan cepat berubah menjadi aliran permukaan (run-off) yang kuat, memicu banjir dan longsor yang destruktif.
Dwi menegaskan, temuan kayu-kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus adalah petunjuk nyata dugaan aktivitas pembukaan lahan dan penebangan yang melanggar ketentuan.
“Kami melihat pola yang jelas: di mana ada kerusakan hutan di hulu akibat aktivitas ilegal. Di situ potensi bencana di hilir meningkat drastis,” ujar Dwi dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.
Saat ini, KLHK telah mengidentifikasi 12 subjek hukum, mulai dari korporasi hingga perorangan yang diduga terlibat dalam gangguan tutupan hutan di wilayah hulu. Sejak 4 Desember 2025, papan larangan sudah dipasang di lima lokasi terindikasi, termasuk 2 titik pada area konsesi PT TPL dan 3 titik pada lokasi PHAT atas nama JAM, AR, dan DP. Rencananya, 12 subjek hukum ini akan dipanggil dan diperiksa KLHK pada Selasa (9/12) mendatang.
Polri Fokus pada Bekas Chainsaw
Di sisi lain, Polri juga tak tinggal diam. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti temuan penting di lapangan, adanya bekas gergaji pada kayu-kayu gelondongan tersebut. Temuan ini langsung menjadi fokus utama penyelidikan aparat.
“Dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu, namun kita dapati ada beberapa yang ada bekas potongan dari chainsaw ya. Itu yang akan kita dalami,” tegas Listyo dalam konferensi pers, Kamis (4/12).
Kapolri telah mengerahkan petugas untuk menyusuri aliran sungai dari hulu ke hilir guna memastikan lokasi asal kayu. “Tim sedang turun nanti bersama-sama dengan tim dari kehutanan untuk menyusuri dari daerah aliran sungai yang terdampak sampai dengan kita tarik ke hulu dan hilirnya,” imbuhnya.
Senada dengan upaya pusat, Kapolda Sumatera Utara Irjen Whisnu Hermawan menyatakan akan membentuk tim gabungan yang melibatkan Kepolisian, KLHK, dan pemerintah daerah. Tim ini bertugas menelusuri asal-muasal kayu gelondongan dan melakukan investigasi menyeluruh terkait dugaan aktivitas pembalakan liar.
“Terkait investigasi kami masih butuh waktu melakukan penyelidikan. Jadi ini tim yang akan melakukan penelusuran terkait sebab musabab terjadinya bencana alam ini. Jadi tunggu waktunya,” tutup Whisnu, Sabtu (6/12).





