
BicaraPlus – Jepang berupaya meningkatkan jumlah tentara perempuan di tengah kesulitan perekrutan personel militer.
Melalui rencana terbaru, pemerintah menargetkan porsi perempuan di Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) naik menjadi 13 persen pada Maret 2036. Saat ini, angkanya masih sekitar 9 persen.
Langkah ini diambil untuk memperluas basis rekrutmen sekaligus mendorong peran perempuan di militer.
Kementerian Pertahanan Jepang juga menyiapkan berbagai penyesuaian, mulai dari peningkatan fasilitas hingga perbaikan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi.
Fasilitas khusus perempuan seperti toilet, kamar mandi, hingga ruang tinggal terpisah kini mulai dibangun di barak, pangkalan, hingga kapal militer.
Upaya ini dilakukan seiring meningkatnya anggaran pertahanan Jepang dan kebutuhan personel yang belum terpenuhi.
Saat ini, sekitar 10 persen dari total 250.000 posisi di militer masih kosong.
Sejumlah faktor dinilai membuat profesi militer kurang diminati, seperti risiko pekerjaan yang tinggi, gaji relatif rendah, serta usia pensiun yang tergolong dini, yakni sekitar 56 tahun.
Kondisi ini diperparah oleh masalah demografi Jepang, seperti populasi menua dan angka kelahiran yang rendah.
Dibandingkan negara lain, proporsi perempuan di militer Jepang juga masih tertinggal. Di negara-negara NATO dan mitranya, rata-rata perempuan mencapai lebih dari 12 persen.
Sementara di Amerika Serikat, perempuan diperkirakan mencakup sekitar 18 persen rekrutan baru.
Pemerintah Jepang menilai peningkatan jumlah tentara perempuan dapat membawa perspektif baru, terutama dalam misi kemanusiaan, penanganan bencana, serta interaksi dengan masyarakat.





