
BicaraPlus – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan tengah merampungkan persiapan untuk menerapkan kondisi operasional baru di Selat Hormuz.
Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial pada 5 April, angkatan laut IRGC menyebut langkah ini merupakan bagian dari rencana “tatanan baru” di wilayah Teluk Persia, sesuai arahan pemerintah Iran.
IRGC bahkan memperingatkan bahwa situasi di Selat Hormuz “tidak akan pernah sama lagi”, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman. Ia menyebut kemungkinan serangan terhadap infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika jalur pelayaran strategis itu tidak dibuka.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran hanya mengizinkan lalu lintas terbatas di Selat Hormuz. Kondisi ini berdampak besar karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Di tengah ketegangan itu, Oman dilaporkan mencoba menjadi penengah. Kantor berita negara Oman pada 5 April menyebut bahwa Iran dan Oman telah menggelar pembicaraan untuk melonggarkan pembatasan di jalur tersebut.
Meski demikian, Selat Hormuz hingga kini masih belum sepenuhnya dibuka karena konflik yang terus berlangsung.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah anggota parlemen Iran juga mengusulkan kebijakan tambahan, seperti penerapan biaya atau pajak bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.





