Iran Klaim Serang Data Center Amazon dan Oracle, Disebut Balasan ke AS-Israel

1775189831714 screenshot 2026 04 03 at 09 30 05

BicaraPlus – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengklaim telah menyerang infrastruktur teknologi milik perusahaan Amerika di kawasan Teluk.

Pada 3 April, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan bahwa mereka melancarkan serangan yang menargetkan pusat data dan sistem informasi milik perusahaan teknologi AS. Serangan ini disebut sebagai aksi balasan atas serangan sebelumnya yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, IRNA dan Tasnim, target utama serangan adalah pusat komputasi awan milik Amazon di Bahrain serta basis data Oracle di Dubai, Uni Emirat Arab. IRGC mengklaim fasilitas tersebut mengalami kerusakan berat, bahkan menyebut pusat data Amazon hancur total.

Iran menyatakan bahwa langkah ini merupakan respons langsung atas serangan pada 1 April yang menargetkan rumah Kamal Kharrazi di Teheran. Dalam insiden tersebut, istri Kharrazi dilaporkan tewas, sementara dirinya mengalami luka serius.

IRGC juga menegaskan bahwa mereka sebelumnya telah memperingatkan akan menargetkan perusahaan teknologi Amerika jika serangan terhadap tokoh-tokoh Iran terus berlanjut. Seorang perwakilan Komando Angkatan Laut IRGC menyebut bahwa operasi serupa bisa diperluas jika ancaman terhadap kepemimpinan Iran tidak berhenti.

Selain pusat data, Iran mengklaim turut menyerang sejumlah target lain, termasuk fasilitas industri yang disebut terkait kepentingan AS dan Israel di kawasan, seperti pabrik baja di Abu Dhabi, pabrik aluminium di Bahrain, hingga fasilitas manufaktur senjata milik Rafael.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh pihak berwenang setempat. Kantor Komunikasi Dubai pada hari yang sama menyatakan bahwa laporan kerusakan pada sistem Oracle adalah “direkayasa dan tidak benar.” Pernyataan ini menimbulkan keraguan atas skala dampak serangan yang diklaim Iran.

Sementara itu, otoritas Bahrain melalui Kementerian Dalam Negeri menyebut adanya serangan terhadap bisnis yang beroperasi di wilayahnya, meski tidak merinci perusahaan yang terdampak. Di sisi lain, pihak Amazon belum memberikan komentar terkait klaim terbaru ini. Namun sebelumnya, pada 2 Maret, perusahaan tersebut mengonfirmasi bahwa fasilitasnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain sempat menjadi target serangan drone.

Insiden ini menambah panjang daftar eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Dengan saling klaim dan bantahan yang terus bermunculan, situasi di kawasan diperkirakan masih akan tetap tegang dalam waktu dekat.

Bagikan