
BicaraPlus – Inovasi alat sterilisasi produk pangan berbasis panci presto yang dikembangkan peneliti IPB University Tjahja Muhandri, masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 yang dirilis Business Innovation Center (BIC).
Alat ini dirancang untuk membantu industri kecil memproduksi makanan kemasan steril yang memenuhi standar izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Tjahja menjelaskan, alat tersebut merupakan hasil modifikasi dari panci presto yang umum beredar di pasaran.
Pengembangan dilakukan dengan menambahkan sejumlah komponen penting agar proses sterilisasi dapat memenuhi standar produksi pangan.
“Alat ini saya produksi bekerja sama dengan PT Rubyval Berkat Validitas. Alat tersebut merupakan modifikasi dari panci presto yang ada di pasaran dengan menambahkan termometer, pengukur tekanan, kran pembuangan uap, serta keranjang untuk wadah produk,” ujarnya.
Menurutnya, alat ini mampu menghasilkan produk pangan dengan tingkat steril komersial, sehingga dapat memenuhi persyaratan perizinan edar dari BPOM.
Bantu Industri Kecil Penuhi Standar Produksi
Tjahja mengatakan, banyak industri kecil makanan kemasan masih mengalami kesulitan memperoleh izin edar dari BPOM.
Salah satu penyebabnya adalah belum terpenuhinya standar good manufacturing practices (GMP) dalam proses produksi, terutama pada tahap sterilisasi produk pangan dalam kemasan.
Melalui inovasi ini, proses sterilisasi dilakukan dengan memodifikasi panci presto komersial berkapasitas 50 liter.
Selain penambahan keranjang sebagai wadah produk selama proses sterilisasi, modifikasi tersebut juga bertujuan memastikan distribusi panas berlangsung merata.
Sterilisasi Aman dengan Kompor Rumah Tangga
Alat sterilisasi ini telah diuji aman pada suhu 110 derajat Celsius, yang merupakan suhu kerja maksimal panci presto komersial dalam kondisi normal.
Proses sterilisasi juga cukup menggunakan kompor gas rumah tangga sebagai sumber panas.
Dari sisi biaya, alat ini dinilai lebih kompetitif dibandingkan teknologi sterilisasi komersial lain yang biasanya memerlukan sumber uap dan boiler.
Selain itu, beberapa alat sterilisasi komersial juga belum tentu mampu menjamin distribusi panas yang merata selama proses sterilisasi.
Potensi untuk Produk Tradisional dan Pangan Darurat
Tjahja menilai inovasi ini memiliki potensi pemanfaatan yang luas.
Hal tersebut seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap makanan tradisional Indonesia dalam kemasan yang dapat disimpan lebih lama dan didistribusikan ke berbagai daerah.
Selain itu, teknologi ini juga berpotensi mendukung pengolahan daging kurban dan aqiqah menjadi produk pangan kemasan yang lebih tahan lama.
Produk tersebut nantinya dapat didistribusikan ke wilayah lain, termasuk daerah yang membutuhkan bantuan pangan.
“Inovasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk produksi makanan siap saji dalam kemasan sebagai cadangan pangan saat terjadi bencana,” pungkas Tjahja.





