
Bicaraplus – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan menembus level 9.133 pada Januari 2026. Dalam setahun, penguatan IHSG mencapai lebih dari 27 persen, sementara secara lima tahunan melesat hampir 45 persen. Namun euforia pasar saham ini tidak berjalan seiring dengan nilai tukar rupiah yang justru melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia bergerak dalam dua irama berbeda. IHSG merefleksikan optimisme terhadap kinerja korporasi dan prospek ekonomi domestik, sementara rupiah menangkap sinyal tekanan global yang belum sepenuhnya mereda.
Penguatan IHSG bersifat selektif dan terkonsentrasi pada saham-saham berfundamental kuat, terutama sektor perbankan besar, energi, dan komoditas. Emiten-emiten ini dinilai mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas global, sekaligus memberikan kepastian dividen. Investor, termasuk asing, memilih masuk ke saham unggulan yang likuid dan defensif, namun cenderung tidak menempatkan dananya secara penuh pada instrumen berbasis rupiah jangka panjang.
Di balik kondisi tersebut, fenomena hedging menjadi salah satu faktor yang memperlebar jarak antara penguatan IHSG dan pelemahan rupiah. Investor asing yang masuk ke pasar saham tetap melakukan lindung nilai untuk melindungi portofolionya dari risiko pelemahan rupiah. Strategi ini dilakukan dengan meningkatkan kepemilikan dolar atau instrumen lindung nilai lainnya, sehingga aliran dana ke pasar saham tidak sepenuhnya menambah pasokan rupiah di pasar valuta asing.
Tekanan rupiah juga diperkuat oleh kebutuhan korporasi domestik untuk melakukan hedging, terutama perusahaan dengan kewajiban utang luar negeri, impor energi, dan bahan baku. Di tengah ketidakpastian global dan dolar AS yang masih kuat, permintaan valuta asing meningkat meskipun sentimen pasar saham domestik cenderung positif.
Sementara itu, struktur pasar modal Indonesia yang semakin ditopang investor domestik membuat IHSG relatif lebih stabil. Dana institusi dalam negeri dan investor ritel menjadi penyangga utama penguatan indeks, namun kontribusinya lebih terasa di pasar ekuitas dibandingkan terhadap perbaikan neraca transaksi berjalan atau stabilitas nilai tukar.
Fenomena IHSG yang menguat di saat rupiah melemah menegaskan bahwa pasar saham dan pasar valuta asing merespons faktor yang berbeda. IHSG mencerminkan keyakinan jangka menengah dan panjang terhadap kinerja emiten, sedangkan rupiah lebih sensitif terhadap dinamika global, arus modal, dan strategi manajemen risiko pelaku pasar.
Bagi pasar, rekor IHSG menjadi sinyal optimisme terhadap sektor korporasi. Namun bagi ekonomi makro, pelemahan rupiah menjadi pengingat bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi tantangan penting agar kepercayaan investor terjaga secara menyeluruh, tidak hanya di lantai bursa.





