
Bicaraplus – Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam lebih dari 5 persen, mencerminkan meningkatnya kepanikan dan kehati-hatian investor di tengah sentimen negatif yang membayangi pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.07 WIB, IHSG tercatat turun 473,64 poin atau 5,69 persen ke level 7.846,915, setelah sempat menyentuh level terendah di kisaran 7.833. Pelemahan terjadi secara luas, tidak hanya pada IHSG, tetapi juga pada hampir seluruh indeks utama.
Indeks saham unggulan LQ45 melemah 5,43 persen, IDX30 turun 4,46 persen, sementara Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi paling dalam hingga 7,55 persen. Tekanan serupa juga terlihat pada indeks sektoral dan tematik lainnya, menandakan aksi jual berlangsung merata di pasar.
Salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor adalah pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti aspek investabilitas pasar saham Indonesia. MSCI menyampaikan adanya kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta keandalan data free float, sehingga memutuskan untuk melakukan pembekuan sementara (interim freeze) terhadap sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia.
Sebagai lembaga penyusun indeks global yang menjadi acuan utama investor institusional, sikap MSCI tersebut langsung direspons pasar. Investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks MSCI, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi perubahan bobot Indonesia dalam indeks global.
Aksi jual tersebut menekan likuiditas pasar dan mempercepat pelemahan indeks sejak awal perdagangan. Pelaku pasar menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih dipicu oleh faktor sentimen dan penyesuaian portofolio jangka pendek, bukan karena perubahan mendasar pada kinerja emiten maupun kondisi ekonomi domestik secara tiba-tiba.
Meski demikian, ketidakpastian terkait arah kebijakan indeks global membuat volatilitas pasar meningkat. Investor kini mencermati langkah otoritas pasar modal Indonesia dalam merespons isu transparansi dan tata kelola, serta menunggu komunikasi lanjutan dari MSCI menjelang periode peninjauan indeks berikutnya. Ke depan, kejelasan kebijakan dan upaya memperkuat kepercayaan pasar dinilai menjadi kunci untuk meredam gejolak dan menjaga stabilitas pasar saham nasional.




