
Bicaraplus – Peran perempuan dalam perekonomian nasional semakin menguat dan menjadi salah satu pilar penting pertumbuhan Indonesia ke depan. Perspektif tersebut mengemuka dalam IES Executive Breakfast bertajuk Her Impact, Our Growth: Women Building Indonesia’s Future, yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Economic Summit (IES). Forum ini menegaskan bahwa perempuan tidak lagi sekadar menjadi bagian dari agenda kesetaraan, tetapi telah menjadi penggerak nyata pertumbuhan ekonomi nasional.
Forum yang didukung ParagonCorp ini mempertemukan pemimpin perempuan lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, kebijakan publik, hingga masyarakat. Diskusi berfokus pada strategi memperluas partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi serta memperkuat jalur kepemimpinan perempuan di berbagai sektor strategis.Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan bahwa investasi pada kepemimpinan dan kapasitas perempuan merupakan agenda jangka panjang pembangunan ekonomi.
Di tengah kompleksitas ekonomi global, partisipasi perempuan dinilai bukan lagi sekadar isu kesetaraan, melainkan strategi ekonomi yang esensial. Dengan keterlibatan perempuan yang telah mencapai sekitar 55% di sektor pariwisata, perempuan menjadi tulang punggung dalam memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi nasional.Ketua Dewan Pembina Indonesian Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, menilai kontribusi perempuan selama ini telah menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tantangan saat ini, menurutnya, adalah memastikan sistem, kebijakan, dan ekosistem bisnis mampu mendukung kontribusi tersebut secara optimal agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, tangguh, dan kompetitif.Dari perspektif kebijakan, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menyoroti bahwa tantangan kepemimpinan perempuan tidak hanya berasal dari faktor sistem dan ekonomi, tetapi juga dari budaya dan pola pikir yang masih sarat prasangka. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang lebih adil, termasuk dukungan terhadap peran pengasuhan yang setara, agar perempuan dapat berkontribusi optimal dari jenjang pendidikan hingga posisi kepemimpinan strategis.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia periode 2014–2024 sekaligus Panel Ahli IBC, Retno Marsudi, menegaskan bahwa penguatan peran perempuan membutuhkan perubahan sistemik. Transformasi harus dimulai dari pendidikan, kebijakan ketenagakerjaan, hingga perluasan akses perempuan dalam pengambilan keputusan serta alokasi sumber daya, baik di tingkat nasional maupun global. Ia menilai partisipasi saja tidak cukup tanpa peningkatan jumlah perempuan di posisi kepemimpinan, karena melalui kepemimpinan perempuan dapat membentuk kebijakan, membuka akses bagi sesama perempuan, serta mengarahkan masa depan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Pendiri dan Direktur The Wahid Foundation, Yenny Wahid, menekankan pentingnya memperkuat pendidikan, kepemimpinan, serta akses perempuan agar mampu bergerak dari sekadar partisipasi ekonomi menuju pengaruh dalam pengambilan keputusan. Pemberdayaan perempuan, menurutnya, harus melampaui penguatan keterampilan teknis dengan membangun literasi kekuasaan, sehingga perempuan memiliki keberanian untuk terlibat dalam pengambilan keputusan strategis.
Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan isu perempuan sebagai agenda utama kebijakan serta membangun ekosistem yang memungkinkan perempuan berkembang tanpa harus memilih antara potensi diri dan tanggung jawab domestik.Dari perspektif dunia usaha, Wakil CEO dan Chief Research and Development Officer ParagonCorp, Sari Chairunnisa, menilai tantangan terbesar adalah memastikan perempuan dapat bertransisi dari sektor informal ke sektor formal, serta dari pekerja menuju peran manajerial dan kepemilikan usaha.
Ketika jalur tersebut terbuka, kontribusi ekonomi perempuan dinilai dapat meningkat secara signifikan dan terukur.Dalam momentum tersebut, IBC juga memperkenalkan gagasan awal Women Center for Growth sebagai inisiatif jangka panjang untuk memperkuat peran perempuan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pendekatan kolaboratif. Inisiatif ini dirancang sebagai platform penguatan kapasitas perempuan usia produktif melalui pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, keterampilan praktis, serta penguatan jejaring mentor dan pelaku usaha.
Indonesia Economic Summit sendiri merupakan inisiatif tahunan yang diinisiasi oleh Indonesian Business Council sebagai wadah kolaborasi tingkat tinggi untuk mendorong daya saing, pertumbuhan inklusif, dan kemakmuran berkelanjutan. Forum ini juga mencerminkan komitmen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi global melalui kolaborasi lintas sektor.
Penguatan peran perempuan diyakini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada ketahanan sosial dan keberlanjutan pembangunan nasional. Ketika perempuan memiliki ruang untuk berkembang dan memimpin, dampaknya akan dirasakan secara luas bagi masa depan ekonomi dan generasi bangsa.





