IEA: Dunia Hadapi Krisis Energi Terburuk dalam Sejarah, Pasokan Minyak Anjlok Drastis

1774265895245 untitled 1

BicaraPlus – Dunia disebut sedang berada di ambang krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peringatan itu disampaikan Direktur International Energy Agency (IEA) Fatih Birol dalam kunjungannya ke Canberra, Australia (23/3).

Menurut Birol, krisis yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah menyebabkan gangguan pasokan energi dalam skala yang jauh melampaui krisis-krisis sebelumnya.

IEA mencatat penurunan pasokan minyak global mencapai sekitar 11 juta barel per hari.

Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan defisit saat krisis minyak 1973 dan krisis minyak 1979, dua peristiwa yang selama ini dianggap sebagai krisis energi terbesar dalam sejarah modern.

Gangguan ini terjadi setelah penutupan Selat Hormuz serta serangan terhadap berbagai fasilitas energi di kawasan tersebut.

Tidak hanya minyak, pasokan gas alam cair (LNG) juga mengalami tekanan besar.

IEA memperkirakan penurunan mencapai 140 miliar meter kubik, hampir dua kali lipat dibandingkan kekurangan sekitar 75 miliar meter kubik saat konflik perang Rusia-Ukraina 2022.

Kondisi ini memperparah tekanan terhadap pasar energi global yang sudah rapuh sejak beberapa tahun terakhir.

Sedikitnya 40 fasilitas energi di sembilan negara dilaporkan mengalami kerusakan parah di tengah eskalasi konflik.

Birol memperingatkan bahwa dampak penuh dari krisis ini bahkan belum sepenuhnya terlihat, sementara risiko terhadap ekonomi global terus meningkat.

Sejak konflik memanas pada akhir Februari, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 50%.

Lonjakan ini terjadi setelah serangan oleh Amerika Serikat dan Israel, disusul langkah Iran yang memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis di kawasan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.

Sebagai respons, IEA berencana melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global.

Selain itu, lembaga tersebut juga mendorong langkah-langkah penghematan energi, seperti memperluas kerja jarak jauh, berbagi kendaraan (carpooling), hingga menurunkan batas kecepatan.

Langkah-langkah ini dinilai dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar dalam jangka pendek.

IEA menilai, solusi paling krusial untuk meredakan krisis adalah membuka kembali Selat Hormuz.

Tanpa jalur ini, distribusi energi global akan terus terganggu, dengan dampak yang bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi.

Di tengah situasi ini, Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka blokade Selat Hormuz.

Jika tidak dipenuhi, AS mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Sebaliknya, Iran memperingatkan bahwa mereka bisa menutup sepenuhnya selat tersebut dan menyerang fasilitas energi serta air di kawasan jika diserang.

Kondisi ini membuat krisis energi global tidak hanya soal pasokan, tetapi juga soal eskalasi geopolitik yang semakin sulit diprediksi.

Jika tidak segera mereda, dampaknya berpotensi meluas, dari lonjakan harga energi hingga tekanan besar pada ekonomi dunia.

Bagikan