Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Menhut Dorong Kolaborasi Konservasi Mangrove di Kalimantan Utara

medium IMG 20260206 WA 0055 16048e36f8

BicaraPlus – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menghadiri peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026 di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Kalimantan Utara, kemarin. Kegiatan ini turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang, perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi internasional, serta sektor swasta.

Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli menyaksikan penandatanganan komitmen kolaboratif berbagai pihak untuk pengelolaan dan rehabilitasi mangrove berkelanjutan di Kalimantan Utara. Penetapan provinsi ini sebagai lokasi peringatan nasional dinilai relevan karena perannya sebagai salah satu penjaga ekosistem lahan basah penting di Indonesia.

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan Kalimantan Utara memiliki sekitar 326.396 hektare hutan mangrove dan 347.451 hektare lahan gambut. Ekosistem ini berfungsi sebagai penyerap karbon, habitat keanekaragaman hayati, pelindung pesisir dari abrasi dan cuaca ekstrem, serta penopang ekonomi masyarakat lokal.

“Saya berharap lahan basah ini tidak hanya dipandang sebagai tanah basah, tetapi sebagai sumber biodiversitas tinggi, sumber ekonomi, sekaligus penyerap karbon yang sangat besar,” kata Raja Juli.

Penandatanganan deklarasi konservasi mangrove melibatkan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, mitra pembangunan Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Forest Programme VI, NASCLIM melalui Global Green Growth Institute (GGGI), serta sejumlah pihak swasta seperti PT Pertamina FP Tarakan Field dan PT Mustika Minanusa Aurora Tbk.

Melalui program M4CR dan NASCLIM, pemerintah bersama mitra pembangunan dan masyarakat lokal berupaya memulihkan mangrove terdegradasi melalui penanaman kembali, regenerasi alami, serta penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Kolaborasi ini juga menekankan integrasi kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, pembiayaan iklim, dan tanggung jawab sosial korporasi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Dyah Murtiningsih menjelaskan, peringatan Hari Lahan Basah Sedunia tahun ini mengangkat pentingnya pengetahuan tradisional dalam menjaga kelestarian ekosistem lahan basah, sekaligus menegaskan peran Indonesia dalam pengelolaan lahan basah global.

Di akhir kegiatan, Menhut meninjau langsung kawasan KKMB Tarakan untuk melihat upaya konservasi mangrove dan habitat bekantan. Kawasan ini dinilai berperan sebagai laboratorium hidup untuk pendidikan, penelitian, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan.

Bagikan