Harga Minyak Global Menggila, Asia hingga Eropa Alami Krisis BBM akibat Konflik Iran

1000033339

BicaraPlus – Krisis energi global kembali memanas. Konflik Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem setelah jalur vital Selat Hormuz masih mengalami gangguan serius.Harga Brent crude yang sebelumnya berada di kisaran US$73 per barel kini melonjak hingga menembus US$113–116 per barel, bahkan sempat mendekati US$120 dalam perdagangan intraday. Lonjakan ini terjadi hanya dalam hitungan 10 hari dan disebut sebagai salah satu guncangan energi terbesar dalam sejarah modern.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai “largest supply disruption in the history of the global oil market”, dengan potensi gangguan pasokan mencapai 8 juta barel per hari sepanjang Maret 2026 akibat blokade Hormuz.

Dampaknya langsung terasa di berbagai negara. Sejumlah negara Asia Selatan seperti Bangladesh, Pakistan, dan Sri Lanka mulai menghadapi tekanan serius berupa kelangkaan BBM, pembatasan distribusi, hingga kebijakan pengurangan hari kerja.Di kawasan Asia Tenggara, Kamboja mencatat kenaikan harga bensin tertinggi secara global hingga 68%, disusul Vietnam yang melonjak 50% dan memicu panic buying di sejumlah kota besar.

Sementara itu di Amerika Serikat, harga diesel naik sekitar 37% menjadi hampir US$5 per galon, sedangkan beberapa negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Italia, hingga Belanda kembali melihat harga BBM di atas €2 per liter, meningkatkan kekhawatiran resesi industri.

Negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Rusia, dan Uni Emirat Arab relatif lebih stabil karena memiliki cadangan domestik besar serta jalur distribusi alternatif.Namun tekanan terbesar kini datang dari negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari Teluk. Jepang, Korea Selatan, China, hingga India mulai mengaktifkan langkah mitigasi seperti pelepasan cadangan strategis, pembatasan ekspor, hingga subsidi harga untuk menjaga stabilitas domestik.

Analis Barclays memperkirakan jika gangguan Hormuz berkepanjangan, pasar global bisa kehilangan hingga 13–14 juta barel minyak per hari, membuat harga minyak berpotensi bergerak menuju level US$150 per barel dalam skenario terburuk.

Situasi ini menjadi alarm baru bagi ekonomi global. Kenaikan harga energi berisiko mendorong inflasi pangan, logistik, dan manufaktur, terutama di negara berkembang yang bergantung pada impor minyak mentah.Dengan Selat Hormuz yang masih menjadi pusat ketegangan geopolitik, pasar kini menanti apakah jalur distribusi energi dunia dapat segera pulih atau justru memasuki fase krisis yang lebih panjang.

Bagikan