
BicaraPlus – Dalam suasana Milad ke-113 Muhammadiyah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyerukan percepatan agenda transformasi besar organisasi agar tetap relevan dan unggul menghadapi perubahan zaman. Pesan itu disampaikan Haedar dalam pidato iftitah Konsolidasi Nasional PP Muhammadiyah 2025 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Senin (17/11).
Haedar menegaskan bahwa usia 113 tahun bukan sekadar simbol ketangguhan, tetapi momentum untuk melakukan lompatan baru. “Di usia lebih dari satu abad, Muhammadiyah harus tampil sebagai organisasi modern, profesional, dan berkemajuan,” ujarnya.
Ia menekankan tujuh agenda transformasi sebagai arah gerak baru pasca-Muktamar Solo. Mulai dari reformasi birokrasi, modernisasi tata kelola, digitalisasi sistem kerja, hingga penguatan identitas organisasi. Menurutnya, kantor dan kultur kerja Muhammadiyah harus mencerminkan disiplin, efisiensi, dan kepemimpinan yang menggerakkan.
Dalam aspek ekonomi dan amal usaha, Haedar menyoroti pentingnya konsolidasi keuangan, manajemen kas yang lebih tertata, hingga kolaborasi antar RS Muhammadiyah–’Aisyiyah. Ia juga mendorong pengembangan inovasi bisnis, dari unit usaha seperti Suryavena hingga model keuangan baru termasuk aset digital berbasis emas.
Transformasi, kata Haedar, bukan sekadar menyegarkan program lama tetapi menciptakan unggulan baru di pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Ia menekankan perlunya keberanian membuka amal usaha baru serta memperkuat dauroh kepemimpinan yang menggerakkan.
Pada momen Milad ke-113, Haedar kembali mengingatkan peran Muhammadiyah sebagai suluh bangsa. Ia menegaskan pentingnya menjaga jarak dari politik praktis namun tetap aktif memberi solusi kebangsaan melalui paradigma Negara Pancasila Darul Ahdi wa Syahadah.
Agenda global pun menjadi sorotan. Haedar menyebut ekspansi lembaga pendidikan Muhammadiyah di luar negeri seperti Muhammadiyah Australia College (MAC) dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) sebagai pijakan awal. Ia juga mendorong produksi karya ilmiah berbahasa internasional untuk memperkuat wacana Islam berkemajuan di tingkat dunia.
Menutup pesannya, Haedar mengajak seluruh pimpinan dan warga persyarikatan menjadikan Milad ke-113 sebagai titik tolak gerakan pembaruan. “Kita jangan berhenti pada rutinitas. Milad ini harus menggerakkan kita untuk hadir lebih kuat, lebih mencerahkan, dan lebih memajukan umat serta bangsa,” tegasnya.





