Godzilla El Niño dan IOD Positif Mengintai, Saat Sawah Tertekan Laut Menjadi Fondasi Baru Ketahanan Pangan

Polyworking 23

BicaraPlus – Sinyal musim 2026 semakin menguat ke arah kemarau yang lebih panjang dan lebih kering. Setelah fase basah berakhir pada awal tahun, sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mulai memasuki musim kemarau sejak April, meluas pada Mei–Juni, dan mencapai puncak pada Agustus di sekitar 61,4% zona musim nasional. Pada saat yang sama, 64,5% wilayah diprediksi mengalami curah hujan bawah normal, sementara 57,2% wilayah menghadapi durasi kemarau lebih panjang dari rata-rata klimatologis.

Di balik prakiraan musim domestik tersebut, model iklim global juga menunjukkan potensi berkembangnya El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menuju fase El Niño lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan peluang 50–80%, sementara peluang berkembang menjadi kategori kuat masih di bawah 20%.

Namun perhatian publik semakin besar setelah muncul proyeksi variasi El Niño kuat yang populer disebut “Godzilla”, yang diperkirakan dapat muncul lebih awal mulai April hingga Oktober 2026 dan beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berintensitas moderat.

Secara ilmiah, kombinasi ini terjadi ketika Suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator menghangat, sehingga pembentukan awan dan hujan lebih banyak terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Pada saat yang sama, IOD positif ditandai pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang semakin mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia bagian selatan.

Efek gabungannya membuat wilayah Jawa, Bali, NTB, hingga NTT diproyeksikan lebih cepat memasuki kemarau yang bersifat kering, terutama pada periode April hingga Juli 2026. Sebaliknya, beberapa wilayah di Indonesia timur seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku masih berpotensi mengalami curah hujan relatif tinggi sepanjang musim kemarau.

Dampak paling dekat tentu dirasakan sektor pertanian darat. Sawah di Jawa hingga Nusa Tenggara menghadapi risiko penurunan debit waduk, meningkatnya hari tanpa hujan berturut-turut, serta gangguan sistem irigasi. Kondisi ini dapat memundurkan kalender tanam padi, menekan produktivitas hortikultura, dan meningkatkan risiko crop failure pada komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, dan jagung.

Efek lanjutannya adalah tekanan terhadap inflasi volatile food, terutama pada semester kedua 2026 saat permintaan pangan meningkat namun pasokan sawah mulai tertekan oleh durasi kemarau yang lebih panjang. Namun di balik tekanan sawah, laut justru berpotensi menjadi fondasi baru ketahanan pangan Indonesia.

Ketika angin timur menguat selama musim kemarau, perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara cenderung mengalami upwelling, yaitu naiknya massa air dingin kaya nutrien dari lapisan bawah ke permukaan. Fenomena oseanografi ini meningkatkan fitoplankton, memperkuat rantai makanan laut, dan mendorong kenaikan stok ikan pelagis seperti tuna, cakalang, tongkol, dan lemuru.

Artinya, saat sawah di selatan Indonesia menghadapi tekanan kekeringan, laut justru berpotensi menjadi buffer protein nasional. Bahkan kondisi hujan yang masih relatif tinggi di sebagian kawasan timur juga memberi ruang bagi sektor perikanan untuk tetap produktif dan menopang pasokan domestik.

Selain itu, cuaca kering yang stabil di wilayah selatan juga mendukung evaporasi optimal pada tambak garam, membuka peluang penguatan produksi garam konsumsi dan industri. Dengan kata lain, kemarau 2026 tidak hanya membawa risiko, tetapi juga memunculkan dua alternatif baru ekonomi pangan indonesia yaitu perikanan tangkap dan garam nasional.

Bagikan